INFORMASI PENDAFTARAN ONLINE
SISWA/SISWA BARU TAHUN PENGAJARAN 2020-2021

YPSIM Ter-Update



Thursday, April 9, 2020

32 Siswa/I YPSIM Lulus PTN Jalur SNMPTN, Termasuk 6 Anak Asuh

ANDRIODEV
Selamat kepada seluruh siswa/i SMA & SMK Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda yang berhasil melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur SNMPTN, daftarnya :



Dari 32 orang siswa/i SMA/SMK yg Lulus PTN Jalur SNMPTN, terdapat 6 orang anak asuh YPSIM, diantaranya :

Unit SMA
  1. Putri Suci Cahyati Hutagalung
  2. Switha
  3. Muhammad Hakim Tijaman 
  4. Febrika invia bibina
  5. Aina Fahira Situmorang

Unit SMK
  1. Wan Dara Ainun

Tuesday, February 4, 2020

Kunjungan Wakil Ketua MPR RI Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan

ANDRIODEV

Wakil Ketua MPR RI Dr Ahmad Basarah MH menyatakan, penerapan model pendidikan multikultur di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) Medan sangat dibutuhkan bangsa kita di tengah menguatnya intoleransi yang menjurus ada polarisasi sosial tidak konstruktif bagi persatuan Indonesia.

"Ke depan model pendidikan multikultur layak dijadikan pertimbangan bagi pemerintah kita untuk dijadikan standar kurikulum nasional, terutama referensi untuk aplikasi model kurikulum pendidikan Pancasila yang sedang kita perjuangkan agar kembali diajarkan di sekolah-sekolah melalui revisi Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah masuk Prolegnas prioritas tahun 2020," kata Ahmad Basarah saat menjadi pembicara dalam acara Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Auditorium Bung Karno YPSIM, Sabtu (1/2).

Acara sosialisasi dihadiri, Anggota Dewan Pembina YPSIM, Felix Harjatanaya, Ketua dan Sekretaris YPSIM Finche SE MPsi, J Anto, Pimpinan Sekolah Edy Jitro, para kepala sekolah, guru dan siswa berprestasi.

Politikus kawakan dari PDI Perjuangan ini menilai, sekolah YPSIM dengan 3000 lebih siswa/i nya tampak jelas ideologi Pancasila bekerja di tengah-tengah siswa dan para guru. Sekolah dengan rumah-rumah ibadah semua agama lengkap dan siswa-siswi berbaur dari semua etnis dan agama, serta sistem subsidi silang dari siswa keluarga kaya dan miskin.

"Kerukunan juga tercipta dengan damai di sekolah ini, mencerminkan semua sila Pancasila menjadi benar-benar bekerja. YPSIM perlu dijadikan model sekolah dan praktik pendidikan Pancasila di Indonesia," papar Ahmad Basarah yang juga dikenal luas sebagai Profesor Pancasila ini.

Menurut Dosen tetap pasca sarjana Universitas Islam Malang ini, semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah sistem sosial dan statistik budaya bangsa Indonesia yang dapat hidup berkembang baik jika kita punya keinginan bersama-sama. Sekolah akan menjadi miniatur kehidupan berbangsa-bernegara multi etnis jika sejak dini peserta didik diajarkan untuk saling menghormati ragam perbedaan yang ada, ini mencerminkan kebinnekaan Bangsa Indonesia.

"Proses kegiatan belajar-mengajar mencerminkan penerapan nilai Pancasila. Misalnya doa lintas agama, integrasi nilai-nilai multikultur dalam setiap pembelajaran, kelas agama dilakukan bersama untuk toleransi,"kata Basarah.

Untuk itu, Basarah mengapresiasi lembaga pendidikan bentukan dr.Sofyan Tan yang konsisten menerapkan dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila seperti toleransi, kemajemukan dan nilai-nilai kemanusiaan. Ada banyak kebutuhan penyesuaian selain konten kurikulum juga tenaga pendidiknya. Misalnya standarisasi karakter ber Bhinneka Tunggal Ika bagi tenaga Pendidikan.

“Kita bisa beri masukan apakah perlu sertifikasi guru memasukkan syarat berkarakter Pancasilais. Guru-guru sangat berperan menanamkan nilai-nilai kebaikan termasuk karakter berdasar pada Pancasila seperti Ketuhanan, Nasionalisme, Kemanusiaan, Demokrasi dan Keadilan Sosial kepada siswa melalui proses pendidikan, model YPSIM ini bisa jadi salah satu referensi,"urainya.

Sementara Ketua Dewan Pembina YPSIM dr Sofyan Tan mengatakan, komitmen dan konsistensi YPSIM dalam menjaga dan menerapkan nilai nilai kebhinnekaan dalam lembaga pendidikan. "Agar nilai nilai toleransi dan semangat kebhinnekaan bisa terus hidup, maka Auditorium Bung Karno sengaja kita desain menghadap ke arah rumah ibadah agama-agama di lingkup lingkungan YPSIM. Auditorium Bung Karno rencananya akan diresmikan Presiden kelima Indonesia Ibu Megawati Soekarnoputri,"papar Sofyan Tan didampingi istri Elinar.(Siong)

Friday, January 17, 2020

YPSIM Bagikan Angpau Untuk 88 Warga Kurang Beruntung

ANDRIODEV
Sepekan menjelang Hari Raya Imlek 2571, Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), Jalan T Amir Hamzah, Medan Sunggal membagikan angpau kepada warga kurang beruntung dan anak asuh, Jum'at (17/1).

Sepekan menjelang Hari Raya Imlek 2571 pada 25 January mendatang, Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), Jalan T Amir Hamzah, Medan Sunggal membagikan angpau kepada warga kurang beruntung dan anak asuh yang merupakan siswa di sekolah tersebut, Jum'at (17/1).

Pembagian angpau bertujuan berbagi kebahagian kepada sesama yang digelar setiap tahun itu langsung diserahkan Ketua Dewan Pembina YPSIM, dr Sofyan Tan kepada para warga dan anak asuh. Saat itu Sofyan didampingi Ketua Yayasan, Finche SE, Pimpinan Sekolah Edy Jitro dan sejumlah Kepala Sekolah YPSIM.

Sofyan Tan dalam sambutannya mengatakan, pembagian angpau menjelang  pergantian tahun babi ke tahun tikus logam yang dilaksanakan YPSIM sebagai salah bentuk kepedulian pihak yayasan untuk berbagi rejeki kepada puluhan warga Kecamatan Medan Sunggal dan anak asuh yang secara ekonomi kehidupannya kurang beruntung.

"Hari ini YPSIM berbagi rejeki  membagikan angpau untuk 88 warga kurang beruntung. Ada juga titipan bantuan dari sahabat baik saya di Jakarta untuk bapak ibu sekalian. Sahabat baik saya itu seorang pengusaha madu,  dia berharap kehidupan bapak ibu bisa ikut bermanis-manis seperti madu dalam menyongsong tahun tikus logam ini,"kata Sofyan.

Karenanya Sofyan berharap, kepada para warga agar tetap optimis menjalani kehidupannya di tahun tikus logam ini meski di tahun babi kemarin nasib mereka belum begitu beruntung.

"Minimal di tahun mendatang anak-anak kita bisa tumbuh sehat, dibekali pendidikan yang baik agar mereka bisa merubah kehidupan keluarganya,"harap Sofyan Tan yang juga merupakan Anggota DPR RI ini.

Dari 88 orang penerima bantuan lanjut Sofyan, mungkin diantara mereka ada memiliki putra dan putri  yang belum menjadi anak asuh. Untuk itu disarankan agar warga bisa menyekolahkan anak-anaknya di YPSIM yang nantinya pihak yayasan akan membantu sekolah mereka.

"Mari jadikan mereka sebagai anak asuh di YPSIM. Nanti kita bantu pendidikannya. Setelah berhasil tamat SD, SMP dan SMA kita akan usahakan lagi agar mereka bisa kuliah hingga menjadi sarjana. Saya yakini putra dan putri bapak ibu sekalian bisa kita rubah dan dididik di YPSIM untuk menjadi orang-orang hebat ,"ucap Sofyan penuh semangat.

Dalam kehidupan seperti saat ini, lanjut Sofyan, warga tidak bisa lagi bergantung pada pemikiran-pemikiran seperti masa lalu, ingin hidup bergelimpangan harta tapi hanya bisa pasrah menggantungkan nasib dan kehidupannya kepada Tuhan.

"Orang dulu memang banyak yang tidak sekolah tapi bisa kaya. Itu bukan karena nasib baik, tapi karena ulet dan kerja keras. Untuk jaman kini harus lewat ilmu dan pendidikan yang diberikan guru di sekolah, saya bisa menjadi Anggota Dewan berkat ilmu dan pendidikan. Ilmu akan senantiasa berada di dalam tubuh dan otak kita, tidak bisa dicuri orang serta bisa menghasilkan uang,"ujar Sofyan mengingatkan warga dan anak asuh  sembari mengucapkan Selamat Hari Raya Imlek dan Gong Xi Fa Cai sebelum menutup sambutannya.

Thursday, January 16, 2020

Sekolah YPSIM Sediakan Empat Rumah Ibadah

ANDRIODEV

TRIBUN-MEDAN.com-Toleransi dapat diartikan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan, toleransi ada banyak macamnya antara lain toleransi beragama, suku, ras dan budaya.
Kepala sekolah SMP Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan Sunggal, Dra. Listiani, M.Pd mengatakan keunggulan sekolah SMP Sultan Iskandar Muda ini merupakan sekolah multikultural yang artinya beragam suku agama, disini anak anak diajarkan perbedaan diantara satu dengan yang lainnya.
"Di sekolah ini kita ada namanya doa lintas agama, lintas agama artinya pada saat upacara di Hari Senin, ada doa lintas agama artinya ada agama Islam, Kristen, Buddha, dan Hindu. Setia acara sekolah kita ada doa lintas agama, saya rasa ini bisa menjadi keunggulan sekolah kita," ucap Listiani didampingi Guru BK (Bimbingan Konseling), Adri Hermawan, M.Psi.
Kata Listiani, di dalam lingkungan sekolah ini, pihaknya juga menyediakan empat rumah ibadah yakni mesjid, gereja, vihara dan kuil.
"Jadi biasanya pada saat belajar agama mereka (siswa) masuk ke rumah ibadah masing masing, agama islam ke mesjid, agama kristen ke gereja, rumah ibadah itu secara berdampingan dibangun artinya anak anak itu sudah terbiasa dengan rumah ibadah ini seperti ini jadi mereka tahu rumah ibadah tersebut. Dengan adanya  rumah ibadah itu artinya, kita saling menghargai dan menghormati, antara satu dengan yang lain," ungkapnya.
Ia mengatakan sekolah ini memiliki fasilitas yang lengkap, tersedia laboratorium IPA ruang musik kedap suara, beragam alat-alat musik tradisional, alat alat musik modern, dan auditorium Bung Karno.
"Auditorium Bung Karno itu digunakan untuk tempat seminar, pertemuan anak-anak kemudian bila ada penyuluhan penyuluhan tempat ini juga digunakan. Tempat pertemuan ini dapat memuat lebih kurang 280 orang," tambahnya.
Kata Listiani, auditorium ini juga bisa dijadikan sebagai tempat untuk menonton seperti bioskop XXI, sehingga anak bisa nonton sama seperti bioskop bioskop yang ada di Kota Medan.
"Siswa kita itu jumlahnya lebih kurang 660 siswa dan semua kelas memiliki AC dan infocus," ucapnya.
Hal menarik lainnya, sekolah ini memanfaatkan fingerprint untuk mengabsen kehadiran para siswa dan gurunya.
"Anak anak itu absen dengan fingerprint, bukan hanya guru saja tapi juga murid pun fingerprint dan bisa terkoneksi dengan orangtuanya, yang menyatakan bahwa anak tersebut sudah ada di sekolah, nanti pulang sekolah juga para siswa dan guru fingerprint kembali," ucapnya.
Tak hanya mampu di bidang akademi, para siswa juga dilatih untuk mengembangkan bakatnya melalui kegiatan ekstrakurikuler (ekskul).
Ia menjelaskan tersedia lebih kurang 30 kegiatan ekskul dengan tujuan untuk mendapatkan tambahan pengetahuan, keterampilan dan wawasan serta membantu membentuk karakter peserta didik sesuai dengan minat dan bakat masing-masing.
"Ekskul kita banyak ada 30 ekskul, pulang sekolah para siswa ekskul
sesuai jadwalnya. Beberapa ekskul diantaranya di bidang kesenian, olaraga, kepemimpinan organisasi, akademi, bahasa asing, dan kita juga ada ekskul keagamaan," katanya

Ia berharap sekolah ini lebih berkembang dan bisa memberikan kontribusi lebih baik di dalam dunia pendidikan. "Para siswa juga selalu kita dukung untuk mengikuti perlombaan sehingga mereka semakin mengembangkan bakat, percaya diri, dan berani tampil di depan umum," ucapnya.

Sunday, August 25, 2019

Kemeriahan HUT Ke-32, YPSIM Gelar Berbagai Kegiatan

ANDRIODEV
Ketua Dewan Pembina YPSIM, dr Sofyan Tan bersama istri Elinar didampingi Ketua Yayasan Finche SE dan Pimpinan Sekolah, Edy Jitro melakukan pemotongan nasi tumpeng pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-32 YPSIM, Minggu (25/8)

Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) menggelar berbagai kegiatan memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-32 sekolah tersebut, Minggu (25/8). 

Berbagai kegiatan seperti jalan santai melintasi sejumlah ruas jalan, pemberian penghargaan kepada guru, penyerahan SK Anak Asuh, donor darah hingga undian lucky draw menyediakan satu unit motor matik digelar di halaman sekolah, Jalan T Amir Hamzah, Kecamatan Medan Sunggal.

Kegiatan perayaan tersebut dikemas secara apik, ditandai pemotongan nasi tumpeng oleh Ketua Dewan Pembina YPSIM, dr Sofyan Tan bersama istri Elinar didampingi Ketua Yayasan Finche SE dan Pimpinan Sekolah, Edy Jitro. 

Sofyan Tan mengatakan, sejak awal berdirinya sekolah tahun 1987 telah menunjukan perkembangan sangat pesat bagaimana sekolah telah  melahirkan dan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang andal di Tanah Air khususnya di Kota Medan.

"Sekolah ini lahir bukan hanya membantu meningkatkan SDM, tapi juga memberi kesempatan kepada warga kurang beruntung secara ekonomi untuk menikmati pendidikan,"kata Sofyan Tan saat memberi sambutan di hadapan ribuan siswa dan orang tua yang turut menghadiri kegiatan tersebut.

Pendidikan yang baik itu sebut Sofyan, bukan hanya menguasai ilmu dan teknologi, namun harus memiliki jiwa toleransi tinggi terhadap sesama tanpa memandang ras, suku, agama dn latar belakang seseorang sebagaimana berdirinya sekolah berdasarkan ideologi negara Pancasila dan UUD 1945.

"Selama 32 tahun, YPSIM menerapkan hal ini, pertumbuhan siswa juga sangat signifikan, dari 171 siswa dengan 17 orang anak asuh pada awal berdirinya sekolah, kini jumlah siswa kita pada tahun 2019 mencapai 3.220 orang dengan anak asuh mencapai 4.300 orang,"ungkap Sofyan Tan.

Untuk program anak asuh dan beasiswa lainnya, lanjut Sofyan, pihaknya selama 32 tahun telah menggelontorkan dana sekira Rp25,4 miliar. Sedangkan subsidi bagi program anak asuh dan beasiswa Perguruan Tinggi (PT) serta pengurangan uang sekolah bagi siswa pada tahun  2019-2020 mencapai Rp4,4 miliar.

"Jadi cukup besar dana telah digelontorkan sekolah untuk membiayai sejumlah program pendidikan bagi para siswa YPSIM, ini sungguh luarbiasa, apalagi pada tahun ini siswa kita lulusan SMA dan SMK banyak menembus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebanyak 92 orang. Dari 92 orang ini, yang mengikuti program anak asuh sebanyak 21 orang,"papar Sofyan Tan.

Sedangkan bagi siswa/i yang tidak lolos PTN, imbuh Sofyan, pihaknya juga membantu siswa melalui program beasiswa kuliah gratis di sejumlah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang tersebar di Kota Medan. 

"Untuk siswa yang melanjutkan kuliah gratis  jumlahnya mencapai 24 orang. Bagi yang dari keluarga kurang mampu tahun ini juga kita kasih kuliah gratis plus dapat uang saku setiap bulan merupakan bantuan pemerintah melalui program Bidik Misi sebanyak 30 siswa. Sementara untuk siswa yang bercita-cita ingin menjadi seorang dokter bisa mengikuti program Sofyan Tan Scholarship.Samapai hari ini ada sebanyak 20 mahasiswa mengikuti program ini,"jelasnya.

Kerja keras selama 32 tahun ini papar Sofyan telah menelurkan ribuan anak didik yang telah menjadi sarjana yang diharapkan bisa menjadi satu arti peningkatan perubahan hidup bagi anak-anak tersebut.(Siong)

Tuesday, August 20, 2019

Lestarikan Permainan Tradisional, dr.Sofyan Tan Bermain Engklek

ANDRIODEV

 

Rindu bermain engklek, permainan tradisional yang populer di kalangan anak-anak yang lahir 1950-an, dapat menghinggapi siapa saja dan kapan saja. Tak terkecuali bagi orang yang telah menjadi anggota dewan, guru atau profesi lain. 
Itulah yang terjadi Sabtu (17/8) pagi pada anggota Komisi X DPRI RI, dr Sofyan Tan.  Usai menjadi inspektur upacara pada  Peringatan  HUT ke-74 Kemerdekaan RI di  Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan, Sofyan Tan langsung berbaur dengan ratusan  siswa dan guru yang tengah mengikuti berbagai lomba permainan tradisional di lapangan sekolah. 

Salah satu permainan yang dilombakan adalah engklek. Permainan yang didapati di Pulau Jawa, Sumatera, Bali dan Kalimantan itu juga disebut juga teklek, sundamanda, dampu atau marsitekka. 

Saat bermain, anak harus melempar gacuk,  sekeping pecahan genting atau batu pipih, yang dilempar  pemain  ke salah satu petak.  Gacuk yang masuk di kotak tidak boleh diinjak, dan harus diambil setelah pemain berhasil melompat dari satu petak ke petak lain satu putaran gambar.

Setelah itu, pemain, dengan membelakangi gambar, melempat gacok. Kotak di mana gacok itu jatuh menjadi miliknya dan tak boleh diinjak pemain lain. Pemain  yang memiliki kotak paling banyak  menjadi pemenang.

Begitulah dengan masih mengenakan setelan jas hitam, baju putih dan dasi merah, Sofyan Tan langsung masuk arena permainan.  Tepuk tangan guru dan siswa  pecah saat Sofyan Tan berhasil melompat sampai dua putaran. Setelah Sofyan Tan lalu disusul Ketua Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Finche Kosmanto, yang pagi itu mengenakan sari, pakaian tradisional India. Berturut guru dan siswa pun larut dalam tawa ceria dan canda saat ada pemain yang terpelanting saat mengambil gacok atau melompat.

Identitas budaya

"Engklek bukan sekadar permainan tradisional, tapi juga salah satu identitas budaya bangsa yang mungkin sudah kurang dikenal lagi anak-anak kita," ujar Sofyan Tan masih dengan napas tersengal. 

Memasyarakatkan kembali permainan tradisional menurut Sofyan Tan merupakan salah satu langkah konkret mewujudkan ajaran Tri Sakti Bung Karno di bidang  kemandirian  budaya. Permainan engklek bukan hanya murah meriah, tapi secara tak langsung juga mengajar anak-anak sejak dini  untuk cinta olahraga.

Sebelumnya saat memberikan sambutan, Sofyan Tan menekan pentingnya menumbuhkan rasa bangga anak-anak muda terhadap kekayaan ragam etnis, budaya, bahasa, pakaian daerah, agama, kuliner dan sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia.

Semua itu menurut Sofyan Tan merupakan modal utama dalam proses menuju negara Indonesia yang maju dan sejahtera pada 2030, termasuk kemajuan di bidang iptek yang telah banyak diperlihatkan anak-anak muda milenial. "Kita juga punya bonus demografi sebanyak 200 juta yang akan berperan penting pada 2030," katanya. 

Modal sosial, budaya dan alam itu menurutnya telah membuat iri banyak negara lain. Mereka coba mengganggu, bahkan berupaya menghancurkan bangsa Indonesia dengan menyebarkan virus intoleransi dan ajaran-ajaran radikal untuk memecah belah soliditas yang ada.

"Yang berbeda katanya harus dianggap musuh, bahkan boleh dikerasi, itu ajaran yang tak sesuai etika bangsa kita yang menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, juga tidak sesuai budaya gotong royong kita," katanya. 

Budaya gotong royong tanpa membedakan ras, etnis, golongan, agama, status sosial dan perbedaan gender, menurut Sofyan Tan, terbukti 74 tahun lalu telah berhasil memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajah. Karena Ketua Dewan Pembina YP SIM itu mengingatkan untuk selalu belajar dari Bung Karno, Megawati Soekarno Putri, Abdurrahman Wahid, B.J. Habibie, SBY dan Presiden Joko Widodo.

Segri, guru bahasa Buddha yang etnis Tamil, mengaku saat kanak-kanak ia juga kerap bermain engklek, patok lele, lompat karet dan kasti dengan anak Tamil lain di halaman Vihara Loka Shanti, Medan Polonia. "Saya bahkan tak kenal lagi dengan permainan trafisional etnis Tamil. Itu karena saya adalah bangsa Indonesia," ujarnya usai bermain engklek dengan guru lain di Sekolah Sultan Iskandar Muda. 

Tim Kerja Pembangun

  • Edi Jitro SihombingPimpinan Sekolah
  • Agus RizalPembina Multikultural
  • Lando BeninoNetwork Administrator
  • Andrio PrijayaProgrammer
  • M. Awal Imam MulqanGraphic Designer
  • IdrusPhotographer