INFORMASI PENDAFTARAN
SISWA/SISWA BARU TAHUN PENGAJARAN 2019-2020

YPSIM Ter-Update



Sunday, May 12, 2019

Puteri Sakya 2019 MBI, Jocelyn Ang Siswi SMA SIM

ANDRIODEV
Foto Puteri Sakya 2019 MBi Medan. Jocelyn Ang, Siswa SMA Sultan Iskandar Muda, terpilih sebagai Puteri Sakya 2018 MBI Medan  pada Waisak Fair 2019 yang diadakan dalam rangka memeringati Perayaan Hari Waisak 2019 di Medan, Minggu (12/5).

Jocelyn Ang (16), siswa kelas X IPA-2 SMA Sultan Iskandar Muda Medan Sunggal, terpilih sebagai Puteri Sakya 2019 MBI Medan pada Pemilihan Putera Puteri Sakya 2019 yang berlangsung di Grand Ocean, Cemara Asri, Minggu (12/5). Lomba Putera-Puteri Sakya merupakan salah satu mata acara Waisak Fair 2019 yang diadakan Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Medan.

Puteri Puteri Sakya mirip ajang pemilihan putra-putri Indonesia, namun lebih menonjolkan  pada aspek edukasi dan muatan religius agama Buddha. Lomba diikuti 80 peserta (putera puteri), dengan kategori mereka yang berusia antara 16 - 24 tahun.  Ada tiga indikator yang dinilai para juri yakni dharmais, brain, dan confidence. Pada saat audisi, dari 80 peserta, hanya 12 peserta (6 putera, 6 puteri) yang masuk ke tahap grand final.

Di grand final, 12 finalis lalu dinilai lag hingga tinggal 4 besar dan 2 besar untuk masing-masing kategori. "Saya kaget terpilih sebagai Puteri Sakya 2019, bisa masuk 2 besar saja sudah syukur," ujar ujar Jocelyn saat ditemui di sekolahnya SMA Sultan Iskandar Muda, Medan Sunggal Jumat (17/5).

Ingin Jadi Dokter Paru-paru
Dikenal sebagai siswa yang supel, murah senyum, Jocelyn tergolong siswa yang punya rasa percaya diri tinggi. "Saya punya cita-cita ingin jadi dokter spesialis paru-paru," ujar puteri sulung pasangan  Kianto -  Lita yang bermukim di Padang Sidempuan itu. Di Medan, Jocelyn dan adiknya memang tinggal bersama neneknya. Setamat SMP di Padang Sidempuan, orangtuanya memang ingin kedua anaknya sekolah di Medan. Lita, ibu Jocelyn, adalah alumni SMA Sultan Iskandar Muda tahun 1996 dan merupakan anak asuh dr. Sofyan Tan.

Bagi Jocelyn, dokter adalah profesi mulia dan dibutuhkan  sepanjang hajat hidup manusia.
"Profesi dokter itu merupakan karma baik. Saya ingin aman di dunia juga kelak di kehidupan lain," ujar Jocelyn yang saat SD memang kerap mengisi acara fashion show dan lomba tari modern dan tradisional di sekolahnya itu. Namun saat SMP minatnya beralih ke kegiatan akademik. Tahun 2015 misalnya, ia pernah mewakili sekolahnya  pada lomba  OSN untuk bidang mata pelajaran IPS tingkat Sumut di Medan.

Memotivasi Untuk Menebar Karma Baik
Motivasinya ikut Lomba Putera Puteri Sakya menurutnya karena dorongan untuk memotivasi remaja seusianya agar menebar karma baik. Penggemar novel-novel karya Tere Liye ini  menyebut karma baik bisa dilakukan lewat rajin beribadah di vihara dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial.
Saat grand final yang menyisakan 2 finalis Puteri Sakya 2019, dewan juri yang terdiri atas Dharmawaty, Sarman dan Johny Sia, meminta kedua finalis memberi pidato singkat untuk meyakinkan mereka. Joyce  memilih menerangkan ajaran  Ehipassiko dari sang Buddha.

"Buddha berkata bahwasanya beliau tak pernah memaksa orang untuk mengikuti ajarannya. Namun beliau ingin orang melihat, datang, kenali, dan buktikan darma Sang Buddha," kata Jocelyn yang Juara III di kelasnya itu.

Sunday, April 14, 2019

Pelepasan Siswa XII YPSIM Penuh Haru

ANDRIODEV

SMA Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) menggelar pelepasan siswa-siswi kelas XII, Sabtu (13/4). Sebanyak 216 siswa-siswi kelas XII dilepas oleh Ketua Dewan Pembina YPSIM, dr Sofyan Tan untuk dikembalikan kepada orang tua wali murid.

Mengusung tema "Menjadi Generasi Yang Berdaya Saing dan Mencintai Keberagaman"prosesi pelepasan siswa-siswi yang digelar di Gedung MICC,Jalan Gagak Hitam Medan  itu berjalan lancar dan penuh rasa haru. Tak jarang siswa, orang tua wali murid dan guru SMA YPSIM yang mengahadiri pelepasan atau perpisahan itu menggambarkan raut wajah sedih dan terharu.

Betapa tidak, rasa kebersamaan selama tiga tahun menjadi keluarga besar SMA YPSIM  tanpa terasa telah berakhir. Suasana haru semakin terasa ketika prosesi penyematan kalung alumni SMA YPSIM oleh Pimpinan Sekolah Edy Jitro Sihombing MPd,  yang dibalut salam perpisahan dengan para guru.

Selain dihadiri orang tua wali murid, dewan guru dan karyawan SMA YPSIM, pelepasan siswa-siswi kelas XII juga dihadiri Ketua YPSIM, Finche SE MPsi, Sekretaris Yayasan J Anto. Untuk memeriahkan prosesi pelepasan itu, keluarga besar SMA YPSIM menampilkan parade tarian Bhinneka Tunggal Ika yang menggambarkan keberagaman etnis dan budaya di Tanah Air dan hiburan lainnya.

dr Sofyan Tan dalam sambutannya mengimbau para alumni YPSIM jika telah meraih kesuksesan dan berhasil di luar sana, baik itu telah menjadi pejabat, politikus, pengusaha sukses dan lainnya agar ikut serta membantu orang-orang miskin untuk bisa menikmati pendidikan tanpa membeda-beda suku, ras, agama dan latar belakang seseorang.

"Ini imbalan yang saya minta kepada para alumni jika sudah meraih kesuksesan di luar sana. Mari kita bantu orang miskin untuk menikmati pendidikan tanpa ada diskriminasi.Bantulah orang-orang berdasarkan penderitaannya.Bisakah anak-anak??,"tanya Sofyan Tan yang dijawab secara serentak oleh siswa dengan kata bisa. 

Sofyan Tan mennambahkan, tahun ini YPSIM telah menambah sejumlah fasilitas sekolah seperti Auditorium Bung Karno dan kolam renang sebagai hadiah pelepasan bagi para siswa SMA kelas XII.

"Tidak banyak sekolah dengan level seperti kita memberi kesempatan untuk semua golongan, suku dan tingkat sosial ekonomi berbeda bisa menikmati  fasilitas lengkap seperti yang dimiliki sekolah kita.Jika ada sekolah lebih lengkap atau setara dengan YPSIM tapi harga uang sekolahnya sangat mahal,"ungkap Sofyan Tan yang juga Anggota DPR RI ini.

Sementara itu, Edy Jitro Sihombing MPd menyatakan, kegiatan pelepasan digelar cukup meriah  dilakukan untuk memberi motivasi kepada anak didik yang akan menyelesaikan studinya.Jika dilihat secara sesungguhnya, perkembangan siswa SMA YPSIM dalam tiga tahun terakhir mengalami kenaikan

"Tahun depan akan ada pelepasan sebanyak 280 orang, tahun ini kita melepas 216 siswa.Alumni kita sudah mencapai 3.471 orang,"ungkap Edy Jitro.

Edy Jitro juga berpesan untuk para alumni agar meraih keberhasilan di luar sana dengan menerapkan rumus gairah, visi, aksi dalam meraih kesuksesan.

"Motivasi harus ada, tapi tidak cukup makanya harus ada visi dan cita-cita, pandangan jauh ke depan.Tapi semua tidak akan berjalan jika tidak ada aksi.Jika ketiga hal ini dilakukan dengan sugguh-sungguh mudah-mudahan anak didik kami bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi,"tutupnya.

Edy Jitro juga mengingatkan para alumni  selalu mengecamkan pendidikan multikultural yang diberikan YPSIM selama ini untuk diterapkan secara terus menerus di dalam kehidupan sebagai seorang nasionalis sejati.

"Seorang nasionalis sejati selalu mencintai keberagaman, kamu ditempa dan dididik di sini  tanpa ada perbedaan, maka kamu juga harus mencintai keberagaman itu," tandas Edy Jitro.(Siong)

Usai memberikan selempang kepada siswa sebagai tanda pelepasan, Ketua Dewan Pembina YPSIM, dr Sofyan Tan, Ketua YPSIM, Finche SE dan  Pimpinan Sekolah Edy Jitro Sihombing MPd secara simbolis diabadikan dengan dua siswa kelas XII, di Gedung MICC,Jalan Gagak Hitam Medan, Sabtu, (13/4).

Saturday, February 16, 2019

Dinas Pariwisata Apresiasi Gelar Karya Siswa SMK SIM

ANDRIODEV

Dinas Pariwisata Medan mengapreasi pagelaran Gelar Karya Siswa SMK sekolah Sultan Iskandar Muda  yang rutin dilaksanakan setiap tahun karena mampu meningkatkan kreatifitas para siswa.

"Kita sangat mengapresiasi Gelar Karya Siswa SMK sekolah Sultan Iskandar Muda. Ke depannya mungkin inti penampilan kreatifitas dari siswa bisa ditambah lagi seperti melukis, mengukir dan lainnya.Jadi bukan hanya tari-tarian saja yang bisa kita tampilkan,"kata Kasi Penyuluhan Hak Kekayaan Intelektual Dinas Pariwisata Medan, Fajar saat menghadiri kegiatan Gelar Karya SMK Sultan Iskandar Muda, Sabtu kemarin.

Kegiatan ini dihadiri, Sekretaris Yayasan J Anto, Pimpinan Sekolah, Edy Jitro Sihombing MPd dan para kepala sekolah serta ratusan siswa/i SMK Sultan Iskandar Muda.

Fajar menyatakan, Dinas Pariwisata Medan untuk saat ini memiliki banyak program pembinaan ekonomi kreatif (ekraf) termasuk pertunjukan seni seperti yang ditampilkan oleh siswa/i SMK Sultan Iskandar Muda.

"Ke depannya kita bisa rangkul para pelaku ekraf , apalagi untuk generasi muda. Target kita ke depannya memang diperuntukan bagi generasi muda atau milenial. Target awal kita akan ke kampus-kampus dulu,"sebut Fajar.

Sebelumnya Kepala SMK  Sultan Iskandar Muda Elly Sorta Maria SPd  mengatakan, Gelar Karya siswa SMK pada tahun ini diwujudkan dalam bentuk kostum karnaval yang mengambil 3 kostum utama yaitu: Garuda Pancasila, Kelautan dan Kehutanan. Dua kostum lainnya mengangkat pakaian  tradisional dari kepulauan Nias dan Tapanuli.

Elly Sorta menjelaskan, kostum Garuda Pancasila diangkat dalam dalam gelar karya tersebut untuk mengingatkan bahwa lambang negara kita adalah Garuda Pancasila.

"Jadi jangan ada yang melupakan Garuda Pancasila yang gagah, perkasa dan bisa mempersatukan rakyat Indonesia itu adalah  lambang negara kita,"kata  Elly Sorta.

Untuk kostum kedua, sebut Elly Sorta, pihaknya mengaitkannya dengan laut Indonesia yang luasnya luar biasa agar bisa generasi muda mendatang bisa menggali potensi kekayaan alam laut di Indonesia.

Sedangkan kostum ketiga mengenai hutan di Indonesia yang juga sangat luas memang perlu dijaga dan dilindungi kelestariannya di tanah air agar tidak ada terjadi bencana terkait kondisi alam yang rusak akibat ulah manusia.

"Kalau dua kostum lainnya mengangkat pakaian tradisional daerah Nias dan Tapanuli karena kedua daerah ini sangat berdekatan dengan Kota Medan,"ujarnya.

Selain menampilkan kostum karnaval, kegiatan gelar karya siswa SMK Sultan Iskandar Muda  yang mengusung tema "Generasi Hebat Adalah Generasi Berkarya"dirangkai dengan kegiatan kewirausahaan hasil kreatifitas siswa dalam bentuk bazaar. 
  
"Jadi dalam bazaar itu cukup banyak hasil kreatifitas dan karya para siswa dari barang bekas untuk ditampilkan seperti lukisan, gantungan kunci, akrilik bunga dan lainnya,"ungkap Elly Sorta.

Melalui bazaar, para siswa juga bisa lebih banyak belajar menghitung seperti berapa modal, keuntungan dan berapa yang terjual. Jadi kewirausahaan siswa kita aplikasikan dalam bentuk bazaar .Mereka juga harus menghitung berapa banyak tenaga kerja yang dipekerjakan,"ujar Elly.

Wednesday, January 23, 2019

Sofyan Tan : Jangan Tiru Sifat Babi

ANDRIODEV

Anggota Komisi X DPR RI, dr Sofyan Tan memastikan anggaran untuk pendidikan akan terus tersalurkan ke sekolah-sekolah dan siswa yang membutuhkan di dapilnya.

"Saya pastikan anggaran untuk pendidikan akan terus tersalurkan.Setelah fokus pada renovasi ini, kita ke depan akan fokus meningkatkan kualitas guru-guru.Ini juga akan menjadi pantauan saya," kata Sofyan Tan saat meresmikan renovasi ruangan kelas SMA Negeri 10 Medan, Sabtu (19/1).

Bukan hanya itu, sepanjang telah menjadi anggota DPR RI, 4 tahun 2 bulan 19 hari, ia sendiri telah membantu 1922 sekolah untuk perbaikan laboratorium IPA maupun komputer serta perpustakaan.

"Bayangkan, saya bisa membantu lebih banyak orang dengan menjadi anggota DPR. Sebelumnya saya hanya anak orang miskin.Ayah dan ibunya tidak tamat sekolah. Saya ambil kedokteran karena saya ingin kejadian yang terjadi pada ayah saya tidak terjadi lagi pada orang. Sambil kuliah kedokteran saya menjadi guru. Malamnya mengajar private. Saya tidak pernah mengeluh untuk bekerja keras," ucapnya.

Dalam motivasinya kepada ratusan siswa dan orangtua siswa, Sofyan Tan menyatakan, jangan pernah berkecil hati menjadi orang yang tidak mampu, tapi terus berjuang dan bekerja keras.

Dalam kesempatan itu, Sofyan menjelaskan, pada 2019 ada 134 sekolah di daerah pemilihannya di Sumatera Utara yang akan direnovasi. Berdasarkan data badan pusat statistik nasional sendiri masih ada 156 ribu sekolah lagi yang rusak. Hanya saja untuk Sumut tahun ini yang direnovasi itu ada 134 sekolah. Salah satu di antaranya SMA Negeri 10 ini.

Selain renovasi sekolah, tahun ini juga ada 44 ribu Kartu Indonesia Pintar (KIP) akan yang dibagikan kepada siswa miskin di daerah pemilihannya. "Dari 44 ribu itu, hari ini saya serahkan kepada siswa SMA Negeri 10 Medan sebanyak Rp140 juta. Artinya ada 140 siswa dari sini yang menerima," ucap pemilik Yayasan Pendidikan Sultan Iskandar Muda tersebut.

Kepala SMA Negeri 10 Medan, Susnesi menyebutkan, sepanjang sekolah tersebut berdiri, laboratorium itu tidak pernah diperbaiki. Lantainya juga hanya terbuat dari papan. "Kami saja mau menginjaknya takut-takut, Pak. Karena kayunya sudah tua. Berkat Pak Sofyan Tan akhirnya laboratorium tersebut direnovasi," ujarnya sambil menyebutkan Sofyan Tan sudah datang tiga kali ke sekolah tersebut.

Imam Besar Istiqlal, Nasaruddin Umar : Perbedaan Itu Rahmat

ANDRIODEV

Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar, MA,Ph.D menegaskan, perbedaan jangan diartikan sebagai sebuah malapetaka, namun  adalah rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. "Saya belajar banyak dalam konfigurasi etnik dan agama yang berbeda. Perbedaan itu jangan diartikan sebagai sebuah malapetaka, tapi itu adalah rahmat,"kata Nasaruddin Umar saat berkunjung ke sekolah Sultan Iskandar Muda, di Medan Sunggal, Sabtu (19/1).

Kedatangan Nasruddin bersama rombongan saat itu disambut Ketua Pembina Sultan iskandar Muda dr Sofyan Tan, Ketua YPSIM Finche serta para kepala sekolah dan guru. Nasarudin mencontohkan, seandainya sebuah lukisan dengan warna putih semua dan dibingkai tentu terlihat tidak cantik. Namun jika diberi warna-warna kontras maka akan terlihat indah.

"Jadi warna-warni Indonesia seperti ini harus dianggap sebagai rahmat besar dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Indonesia yang ber Bhinneka Tunggal Ika bisa menjadi contoh bagi negara-negara lain,"sebut Nasaruddin yang baru pertama kalinya ke sekolah Sultan Iskandar Muda.

Nasaruddin kembali mencontohkan, di negara Timur Tengah dengan satu agama mayoritas dan mutlak, bahkan etniknya juga hanya satu atau dua, tapi siang dan malam saling bunuh-bunuhan.

Untuk itu ia mengingatkan, bahwa tidak merupakan satu jaminan sebuah institusi negara yang seragam, lebih homogen dan tidak plural menjadi sebuah negara yang paling stabil. Sebaliknya, jangan juga diartikan bahwa dalam setiap negara yang sangat plural dan heterogen itu justru akan menjadi ancaman yang berbahaya.

"Buktinya Indonesia ini sangat luar biasa, ribuan etnik, pulau, bahasa dan konfigurasi perbedaan lainnya bisa menjadi aman dan damai seperti saat ini,"tutur Nasarudin yang kerap mendengar dari teman-temannya tentang  sekolah multikultural Sultan Iskandar Muda yang didirikan dr Sofyan Tan.

Nasaruddin menambahkan, ada empat fase dari pengamat politik internasional telah meramal Indonesia akan mengalami empat kali hancur.Tahun 1997-1998, Indonesia diramal akan bubar.

"Memang ada krisis moneter saat itu tapi tidak sampai Indonesia hancur. Lalu tahun 2011 kita lewati,  lalu 2014 Indonesia diramal akan seperti negara balkan dan Uni Sovyet satu persatu negara akan merdeka. Indonesia dibayangkan akan pecah menjadi 20 negara, tapi ternyata tahun itu kita lewati termasuk tahun 2017 juga lewat.Jadi para pengamat politik itu sulit memprediksi Indonesia,"ujarnya.

Karenanya, lanjutnya Nasaruddin, kita patut bersyukur karena Indonesia selain memiliki kekayaan alam juga memiliki kekayaan agama, budaya, etnik  bahasa dan lainnya. Begitupun Nasaruddin beharap, umat beragama apapun tidak  boleh saling sikut menyikut maupun menghina satu sama lainnya karena keutuhan Indonesia itu terletak pada keutuhan antar umat beragama.

Sementara Ketua Dewan Pembina YP Sultan Iskandar Muda, dr Sofyan Tan menyatakan,  apa yang disampaikan oleh Nasaruddin Umar, baik itu melalui berbagai kegiatan maupun komentarnya selalu sama dengan visi misi sekolah Sultan Iskandar Muda bagaimana membangun bangsa yang beragam-ragam ini melalui pendidikan multikultural.

"Saya dan Nasaruddin Umar selalu tidak bisa bersama, namun hati kami itu selalu bertemu melalui berbagai komentar dan kegiatan yang disampaikan oleh beliau.Beliau lebih senior karena usia kami hanya terpaut tiga bulan,"ungkap Sofyan Tan.

Sofyan Tan berharap, kehadiran beliau di sekolah diharapkan mampu memberi inspirasi dan motivasi kepada para  siswa sehingga ke depannya mampu memberi prestasi terbaik seperti Nasaruddin Umar.

"Saya bertemu beliau pada tahun 2005 saat ke New Zealand memenuhi undangan Perdana Menteri dalam rangka pertemuan untuk membicarakan bagaimana mewujudkan dunia damai melalui pendidikan multikultural.Saat itu sekolah Sultan Iskandar Muda mendapat kehormatan menjadi model di dalam forum pertemuan tersebut,"kenang Sofyan Tan yang juga Anggota DPR RI ini.

Dalam kunjungannya tersebut, Nasaruddin Umar juga diajak berkeliling ke halaman belakang sekolah Sultan iskandar Muda untuk melihat 4 rumah ibadah yang berdiri secara berdampingan  serta tugu kerukunan yang diapit pohon bul-bul.

Thursday, January 17, 2019

Sofyan Tan Tekankan Pentingnya Pemahaman 4 Pilar

ANDRIODEV

Ratusan siswa siswi SMA Dr Wahidin Sudirohusodo, Jalan KL Yos Sudarso, Martubung, Medan Labuhan mengikuti sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika yang dibawakan oleh Anggota MPR RI, dr Sofyan Tan, Rabu (16/1).

Dalam sosialisasi yang juga dihadiri para guru dan orang tua siswa itu, Sofyan Tan  menekankan betapa pentingnya pemahaman terhadap Empat Pilar Kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

"Empat pilar kebangsaan ini sangat penting bagi negara dan bangsa kita, khususnya bagi generasi muda.Indonesia sebagai negara kepulauan dengan berbagai ragam suku dan budaya bisa kuat jika nasionalisme kita utuh," kata Sofyan Tan dihadapan ratusan siswa.

Kegiatan sosialiasi 4 pilar yang dirangkai dengan peresmian ruang kelas baru bantuan pemerintah, pemberian SK Program Indonesia Pintar serta bantuan buku itu juga dihadiri pihak Yayasan, Pelangi Wijaya dan para kepala sekolah.

Negara sebut Sofyan Tan, memandang betapa urgensinya masyarakat di Tanah Air untuk memahami kembali nilai-nilai yang ada dalam Empat Pilar. Karenanya melalui UU MD3 mengamanahkan lembaga MPR RI untuk melakukan sosialisasi empat hal penting ini kemudian dilaksanakan MPR RI dengan berbagai metode kepada seluruh rakyat Indonesia.

"Pemahaman dan implementasi Empat Pilar yang baik oleh generasi muda, akan menjadi benteng dari dampak negatif modernisasi dan perkembangan teknologi yang sangat maju, serta bisa menjadi filter dalam menghadapi tahun politik. Tidak mudah terpengaruh untuk saling berkonflik karena beda pilihan,"tutur Sofyan Tan.

Untuk itu, sebut Politisi Partai PDI-Perjuangan ini menjadi sangat penting generasi muda khususnya pelajar Indonesia era kekinian untuk semangat dan serius berupaya memahami dan mengimplementasikan Empat Pilar tersebut, salah satunya mengikuti  Sosialisasi Empat Pilar yang digencarkan MPR RI sesuai amanah UU No.17 Tahun 2014.

"Masyarakat maupun generasi muda Indonesia era milenial saat ini harus memahami dan mengimplementasikan Empat Pilar.Apalagi  bangsa kita memiliki keanekaragaman agama, budaya, adat istiadat dan suku-suku yang berbeda-beda, sangat penting untuk menopang kemakmuran dan kekuatan bangsa,"sebutnya.

Mewakili pihak Yayasan, Ashari SH mengapresiasi sosok Sofyan Tan yang menggelar kegiatan sosialisasi Empat Pilar . Menurutnya,  Sofyan Tan adalah figur yang bisa menjadi panutan masyarakat di Sumut. “Baik dari sisi tutur kata maupun tingkah lakunya. Saya secara pribadi sangat salut sama beliau. Karena beliau sering turun ke lapangan,” ujarnya

Ashari juga berharap sosialisasi Empat Pilar ini dapat memberikan motivasi kepada setiap pelajar. "Semoga para pelajar dapat menanamkan jiwa nasionalisme,"harapnya.

Tim Kerja Pembangun

  • Agus RizalPembina Multikultural
  • Edi Jitro SihombingKepala Perguruan
  • Lando BeninoNetwork Administrator
  • Andrio PrijayaProgrammer
  • HendryVideographer
  • IdrusPhotographer