nstagram
INFORMASI
Pendaftaran Peserta Lomba PESONA PENDIDIKAN 2019

YPSIM Ter-Update



Wednesday, November 21, 2018

YPSIM & Orang Tua Siswa Peringati Maulid Nabi

Andrio Dev

Medan-andalas Yayasan Perguruan (YP)  Sultan Iskandar Muda menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan tersebut digelar di halaman  sekolah YP Sultan Iskandar Muda, Jalan T Amir Hamzah, Medan Sunggal, Sabtu  (10/11). Peringatan Maulid Nabi yang dirangkai pemberian bantuan beras kepada warga kurang mampu itu  diikuti oleh seluruh guru dan siswa YP Sultan Iskandar Muda. Juga hadir Ketua Dewan Pembina YP Sultan Iskandar Muda, dr Sofyan Tan, Ketua Yayasan, Sekretaris, Finche SE dan J Anto serta Ketua Panitia Imam Arif.

Ketua Dewan Pembina, dr Sofyan Tan mengatakan,  sesuai tema yang diusung "Cinta Tanah Air Adalah Bahagian Dari Pada Iman" yang juga bertepatan pada Hari Pahlawan maka sangat penting bagi suatu Negara untuk menduduki tangga dunia sebagai salah satu negara yang menguasai ilmu dan teknologi. "Kedepannya Indonesia diperkirakan menduduki tangga kelima negara terbesar di dunia.Kita harus kuasai ilmu dan teknologi disertai dengan iman yang kuat. Iman yang kuat tentu akan mampu menjaga kedaulatan negara,"kata Sofyan Tan dihadapan para guru dan siswa yang hadir.

Cinta Tanah Air, sebut Sofyan Tan artinya Indonesia harus lepas dari pertikaian, tidak ada konflik bernuansa suku, ras, agama dan antar golongan (Sara) karena pendiri bangsa telah meletakan Pancasila sebagai satu-satunya azas bagi rakyat sebagai pemegang jalan hidupnya di negara ini. Sofyan Tan menambahkan, YP Sultan Iskandar  Muda  rutin menggelar peringatan Maulid Nabi SAW setiap tahun. Peringatan Maulid Nabi jugabertujuan menumbuhkan cinta para siswa kepada Rasulullah SAW sekaligus menghormati siswa yang memiliki hak yang sama untuk memperingati hari besar keagamaannnya di Perguruan Sultan Iskandar Muda.

"Merupakan kebanggaan bagi Sultan Iskandar Muda karena pada 6 November lalu kita berhasil meraih juara satu penghargaan Kemendagri.Penghargaan ini diraih  karena sekolah ini memang pantas ditiru sebab selalu menjaga kerukunan antar umat beragama di lingkungan sekolah dengan menyediakan sarana rumah ibadah untuk semua agama yang dianut para siswanya tanpa membeda-bedakan,"tuturnya. Peringatan Maulid Nabi selanjutnya diisi dengan tausiyah oleh Ustadz Samin Pane. Ia menceritakan Rasulullah SAW merupakan sosok yang paling berpengaruh  di dunia yang hingga kini tetap dicintai dan diteladani umatnya. Dalam tausiyahnya, Samin Pane juga mengungkapkan, Indonesia merupakan negara yang paling nikmat untuk ditinggali dibanding negara lainnya."Kalau Malaysia, Singapura itu sudah biasa untuk ditinggali.Yang paling nikmat itu adalah tinggal di Indonesia, kita paling beruntung makanya kita harus mencintai Tanah Air Indonesia dengan menjaga iman kita sebaik-baiknya,"ucap Samin Pane.

Rayakan Deepavali

Usai pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW, pada hari yang sama YP Sultan Iskandar Muda juga menggelar perayaan Deepavali untuk umat Hindu.Perayaan itu ditandai dengan penyalaan pelita Deepavali oleh dr Sofyan Tan, Ketua Yayasan, Finche SE dan Kepala SMA Edy Jitro Sihombing.(Siong)


Sumber : http://harianandalas.com/medan-kita/yp-sultan-iskandar-muda-peringati-maulid-nabi

Monday, November 19, 2018

Siswa/i PGTK YPSIM Peringati Hari Ayah

Andrio Dev

Medan-andalas Sebanyak 60 siswa PG-TK Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) tersenyum bahagia. Pasalnya, di sekolah mereka yang beralamat di jalan T Amir Hamzah,  Pekan Sunggal,  Sabtu (17/11) kemarin, digelar acara guna memperingati Hari Ayah. Berbagai rangkaian acara, disiapkan guna mengisi acara tersebut. Ada  perlombaan estafet bendera, menari koran, pembacaan puisi hingga pengalungan dasi buat sang ayah hasil kreatifitas para siswa. Dalam sambutannya, Kepala PG-TK YPSIM, Vina SE MPd mengatakan, melalui acara Hari Ayah bertajuk, "Ayahku, Pelindungku" sosok ayah diharapkan mampu mendukung pendidikan anak-anaknya sebab peran serta orangtua tidak hanya didukung oleh ibu namun keterlibatan ayah juga sangat dibutuhkan dalam pendidikan anak-anaknya.

"Hari Ayah kita laksanakan untuk menghormati sosok seorang ayah atas dedikasinya yang selama ini telah mendukung pendidikan anak-anaknya selain bertanggung jawab sebagai kepala keluarga dan mencari nafkah untuk keluarga,"kata Vina. Vina menjelaskan, menghormati dan menghargai sosok ayah maupun ibu sebagai orangtua juga selalu ditanamkan pihah sekolah kepada para siswa melalui sejumlah kegiatan maupun pelajaran di sekolah. "Selain hari ayah, hari ibu maupun hari anak nasional selalu kita rayakan melalui berbagai kegiatan karena keberhasilan suatu pendidikan itu berpusat dari keluarga terlebih dahulu seperti yang disampaikan Bapak KH Dewantara.Selain keluarga, ada masyarakat dan sekolah.Ketiga komponen ini selalu bersinergi mencerdaskan pendidikan anak di Indonesia ,"ucap Vina SE.

Sementara itu,salah satu orang tua siswa bermarga Sianturi mengucapkan terimakasih kepada pihak sekolah atas terselenggaranya hari Ayah. Menurutnya acara tersebut cukup bagus karena mampu mendekatkan sosok ayah terhadap anak-anaknya dengan berbagai aktifitas perlombaan. "Hari ini saya sangat bahagia sekali karena bisa langsung berinteraksi dengan anak.Terkadang ada orangtua selalu sibuk kerja sehingga perhatian maupun kesempatan bersama dengan anak-anaknya jarang sekali didapatkan,"ujar Sianturi. (Siong)


Sumber : http://harianandalas.com/medan-kita/yp-sultan-iskandar-muda-peringati-maulid-nabi

Thursday, November 8, 2018

YPSIM Raih Penghargaan Ormas Award Bidang Pendidikan

Andrio Dev


Jakarta, (Analisa). Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) mendapat penghargaan Organisasi Masyarakat Award bidang pendidikan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Penghargaan berupa plakat dan piagam tersebut diserahkan langsung Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo kepada Ketua YPSIM, Finche Kosmanto yang hadir mewakili Pendiri YPSIM, dr Sofyan Tan di Ballroom Hotel Redtop Jakarta, Selasa (6/11).

Selain kepada YPSIM, dalam Forum Koordinasi Nasional Ormas dan Anugerah Ormas Award Tahun 2018 ini Kemendagri juga memberikan penghargaan kepada sejumlah ormas yang dinilai telah berkon­tribusi besar membantu pemerintah di bi­dang pemberdayaan perempuan, tata kelola pemerintahan, penggalangan bencana, kebudayaan, kesehatan, lingkungan hidup, bakti sepanjang hidup merawat ke-Indone­siaan dan penghargaan khusus.

Ketua YPSIM Finche Kosmanto menga­ku bersyukur atas penghargaan yang diberi­kan pemerintah melalui Kemendagri kepada YPSIM. Dikatakan, apresiasi ini menjadi tambahan energi bagi YPSIM untuk terus berkarya mencetak generasi yang menghor­mati perbedaan melalui konsep pendidikan multikultural yang diterapkan di YPSIM sejak berdiri pada 1987. YPSIM didirikan dr Sofyan Tan yang kini duduk sebagai anggota Komisi X DPR RI.

Bagi YPSIM, penghargaan ini bukanlah yang pertama karena pada 2014 yayasan pendidikan yang berlokasi di Medan Sunggal, Kota Medan, ini juga pernah mendapatkan penghargaan tingkat nasional yaitu Maarif Award dan Anugerah Perduli Pendidikan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah yang telah memberikan penghargaan kepada YPSIM melalui Kemendagri. Penghargaan ini tentunya menjadi tambahan energi baru bagi YPSIM untuk terus peduli kepada masyarakat khususnya anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa,” kata Finche usai menerima penghargaan.

“Bagaimana mengimplementasikan pendidikan multikultural yang digagas pendiri sekolah kami Dr Sofyan Tan, di dalam pembelajaran sehari-hari kepada anak didik,” imbuhnya.

Multikultural

Toleransi atau sikap menghormati perbedaan agama, suku dan ras memang masih menjadi persoalan yang dihadapi Indonesia hingga kini. Per­bedaan masih disikapi de­ngan cara-cara yang into­leran. Menurut Finche, salah satu cara terbaik untuk me­ngu­bah sikap-sikap intoleran tersebut adalah lewat jalur pendidikan.

“Aksi-aksi intoleran yang terjadi memang sangat me­risaukan terutama bagi kami keluarga pendidik. Tetapi kami tetap optimis dan per­caya melalui pendidikan, itu semua bisa diubah,” ujar Finche.

“Jadi anak-anak dibiasa­kan sejak usia dini bahkan mulai dari tahap play group ditanamkan terus-menerus nilai pendidikan multi­kultu­ralnya. Bagaimana satu de­ngan yang lain bisa saling menghargai. Artinya kita boleh berbeda dari sisi aga­ma, etnis dan suku, warna kulit maupun budaya. Tetapi kita adalah Indonesia. Kita adalah satu. Dengan itu kita berharap anak-anak bangsa tidak saling memper­masa­lahkan bahwa kita itu beda,” tambahnya.

Finche menambahkan, selain menga­jarkan hal-hal yang bersifat akademik, sejak didirikan pada 25 Agustus 1987 di Medan Sunggal, YPSIM konsisten mene­rapkan pendidikan multikultural. Kepada seluruh siswa YPSIM mulai dari tingkat Pendidikan Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas serta Sekolah Menengah Kejuruan ditanamkan sikap toleransi terhadap perbedaan.

“Kami mulai dengan hal-hal sederhana untuk anak-anak sesuai dengan usianya. Kami juga sudah menerbitkan buku panduan berjudul Praktek Pendidikan Multikultural yang ditulis guru-guru kami sendiri. Setiap guru memasukkan nilai-nilai multikultural di dalam bidang studi yang diajarkan. Con­tohnya guru Biologi IPA ketika menjelaskan tentang makhluk hidup itu ada manusia, hewan dan tumbuhan. Nah, pada saat membahas tumbuhan, dijelaskanlah bahwa tumbuhan itu pengha­sil oksigen untuk semua manusia. Walau­pun misalnya pohon mangga itu ditanam oleh seseorang beretnis Jawa tetapi oksigen yang dihasilkan tidak hanya untuk etnis Jawa. Tetapi bisa dihirup oleh semua ma­nusia termasuk makhluk hidup lainnya,” tutur Finche.

“Kemudian setiap tahun secara rutin kami merayakan semua kegiatan keaga­maan. Misalnya sekarang ini kami sedang mengadakan perayaan Deepavali, nanti ada acara Maulid kemudian perayaan Natal, Imlek, Isra Miraj. Semua siswa kami libatkan. Misalnya saat perayaan Natal, siswa-siswi yang tak beragama Kristen ikut membantu acara. Bisa dengan menyum­bangkan lagu dan lain-lain. Hal-hal yang sederhana ini sangat penting sekali. Karena semua ber­mula dari pen­di­dikan. Kalau anak-anak su­dah diajarkan dan dita­nam­kan nilai-nilai multi­kultural sejak dia kecil, pastinya dia akan tumbuh besar dengan jiwa yang na­sio­nalis, Panca­silais yang tidak membe­dakan satu de­ngan lainnya.”

Finche yakin didikan un­tuk menghor­mati perbe­daan yang diterima para siswa selama mengenyam pen­didikan di YPSIM mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA serta SMK pasti akan selalu ter­ta­nam dalam jiwa mereka, dan setelah mereka lulus dan me­lanjutkan studi ke tingkat universitas di luar YPSIM, me­reka akan menjadi ‘lilin-lilin’ yang mene­rangi ling­kungan di mana pun berada. (rm)


Tim Kerja Pembangun

  • Agus RizalJabatan
  • Christin EvalinaJabatan
  • Lando BeninoNetwork Administrator
  • Andrio PrijayaProgrammer
  • HendryVideographer
  • IdrusPhotographer