INFORMASI
PEMENANG LOMBA PESONA PENDIDIKAN KE-9 (2019)

YPSIM Ter-Update



Sunday, August 25, 2019

Kemeriahan HUT Ke-32, YPSIM Gelar Berbagai Kegiatan

ANDRIODEV
Ketua Dewan Pembina YPSIM, dr Sofyan Tan bersama istri Elinar didampingi Ketua Yayasan Finche SE dan Pimpinan Sekolah, Edy Jitro melakukan pemotongan nasi tumpeng pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-32 YPSIM, Minggu (25/8)

Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) menggelar berbagai kegiatan memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-32 sekolah tersebut, Minggu (25/8). 

Berbagai kegiatan seperti jalan santai melintasi sejumlah ruas jalan, pemberian penghargaan kepada guru, penyerahan SK Anak Asuh, donor darah hingga undian lucky draw menyediakan satu unit motor matik digelar di halaman sekolah, Jalan T Amir Hamzah, Kecamatan Medan Sunggal.

Kegiatan perayaan tersebut dikemas secara apik, ditandai pemotongan nasi tumpeng oleh Ketua Dewan Pembina YPSIM, dr Sofyan Tan bersama istri Elinar didampingi Ketua Yayasan Finche SE dan Pimpinan Sekolah, Edy Jitro. 

Sofyan Tan mengatakan, sejak awal berdirinya sekolah tahun 1987 telah menunjukan perkembangan sangat pesat bagaimana sekolah telah  melahirkan dan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang andal di Tanah Air khususnya di Kota Medan.

"Sekolah ini lahir bukan hanya membantu meningkatkan SDM, tapi juga memberi kesempatan kepada warga kurang beruntung secara ekonomi untuk menikmati pendidikan,"kata Sofyan Tan saat memberi sambutan di hadapan ribuan siswa dan orang tua yang turut menghadiri kegiatan tersebut.

Pendidikan yang baik itu sebut Sofyan, bukan hanya menguasai ilmu dan teknologi, namun harus memiliki jiwa toleransi tinggi terhadap sesama tanpa memandang ras, suku, agama dn latar belakang seseorang sebagaimana berdirinya sekolah berdasarkan ideologi negara Pancasila dan UUD 1945.

"Selama 32 tahun, YPSIM menerapkan hal ini, pertumbuhan siswa juga sangat signifikan, dari 171 siswa dengan 17 orang anak asuh pada awal berdirinya sekolah, kini jumlah siswa kita pada tahun 2019 mencapai 3.220 orang dengan anak asuh mencapai 4.300 orang,"ungkap Sofyan Tan.

Untuk program anak asuh dan beasiswa lainnya, lanjut Sofyan, pihaknya selama 32 tahun telah menggelontorkan dana sekira Rp25,4 miliar. Sedangkan subsidi bagi program anak asuh dan beasiswa Perguruan Tinggi (PT) serta pengurangan uang sekolah bagi siswa pada tahun  2019-2020 mencapai Rp4,4 miliar.

"Jadi cukup besar dana telah digelontorkan sekolah untuk membiayai sejumlah program pendidikan bagi para siswa YPSIM, ini sungguh luarbiasa, apalagi pada tahun ini siswa kita lulusan SMA dan SMK banyak menembus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebanyak 92 orang. Dari 92 orang ini, yang mengikuti program anak asuh sebanyak 21 orang,"papar Sofyan Tan.

Sedangkan bagi siswa/i yang tidak lolos PTN, imbuh Sofyan, pihaknya juga membantu siswa melalui program beasiswa kuliah gratis di sejumlah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang tersebar di Kota Medan. 

"Untuk siswa yang melanjutkan kuliah gratis  jumlahnya mencapai 24 orang. Bagi yang dari keluarga kurang mampu tahun ini juga kita kasih kuliah gratis plus dapat uang saku setiap bulan merupakan bantuan pemerintah melalui program Bidik Misi sebanyak 30 siswa. Sementara untuk siswa yang bercita-cita ingin menjadi seorang dokter bisa mengikuti program Sofyan Tan Scholarship.Samapai hari ini ada sebanyak 20 mahasiswa mengikuti program ini,"jelasnya.

Kerja keras selama 32 tahun ini papar Sofyan telah menelurkan ribuan anak didik yang telah menjadi sarjana yang diharapkan bisa menjadi satu arti peningkatan perubahan hidup bagi anak-anak tersebut.(Siong)

Tuesday, August 20, 2019

Lestarikan Permainan Tradisional, dr.Sofyan Tan Bermain Engklek

ANDRIODEV

 

Rindu bermain engklek, permainan tradisional yang populer di kalangan anak-anak yang lahir 1950-an, dapat menghinggapi siapa saja dan kapan saja. Tak terkecuali bagi orang yang telah menjadi anggota dewan, guru atau profesi lain. 
Itulah yang terjadi Sabtu (17/8) pagi pada anggota Komisi X DPRI RI, dr Sofyan Tan.  Usai menjadi inspektur upacara pada  Peringatan  HUT ke-74 Kemerdekaan RI di  Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan, Sofyan Tan langsung berbaur dengan ratusan  siswa dan guru yang tengah mengikuti berbagai lomba permainan tradisional di lapangan sekolah. 

Salah satu permainan yang dilombakan adalah engklek. Permainan yang didapati di Pulau Jawa, Sumatera, Bali dan Kalimantan itu juga disebut juga teklek, sundamanda, dampu atau marsitekka. 

Saat bermain, anak harus melempar gacuk,  sekeping pecahan genting atau batu pipih, yang dilempar  pemain  ke salah satu petak.  Gacuk yang masuk di kotak tidak boleh diinjak, dan harus diambil setelah pemain berhasil melompat dari satu petak ke petak lain satu putaran gambar.

Setelah itu, pemain, dengan membelakangi gambar, melempat gacok. Kotak di mana gacok itu jatuh menjadi miliknya dan tak boleh diinjak pemain lain. Pemain  yang memiliki kotak paling banyak  menjadi pemenang.

Begitulah dengan masih mengenakan setelan jas hitam, baju putih dan dasi merah, Sofyan Tan langsung masuk arena permainan.  Tepuk tangan guru dan siswa  pecah saat Sofyan Tan berhasil melompat sampai dua putaran. Setelah Sofyan Tan lalu disusul Ketua Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Finche Kosmanto, yang pagi itu mengenakan sari, pakaian tradisional India. Berturut guru dan siswa pun larut dalam tawa ceria dan canda saat ada pemain yang terpelanting saat mengambil gacok atau melompat.

Identitas budaya

"Engklek bukan sekadar permainan tradisional, tapi juga salah satu identitas budaya bangsa yang mungkin sudah kurang dikenal lagi anak-anak kita," ujar Sofyan Tan masih dengan napas tersengal. 

Memasyarakatkan kembali permainan tradisional menurut Sofyan Tan merupakan salah satu langkah konkret mewujudkan ajaran Tri Sakti Bung Karno di bidang  kemandirian  budaya. Permainan engklek bukan hanya murah meriah, tapi secara tak langsung juga mengajar anak-anak sejak dini  untuk cinta olahraga.

Sebelumnya saat memberikan sambutan, Sofyan Tan menekan pentingnya menumbuhkan rasa bangga anak-anak muda terhadap kekayaan ragam etnis, budaya, bahasa, pakaian daerah, agama, kuliner dan sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia.

Semua itu menurut Sofyan Tan merupakan modal utama dalam proses menuju negara Indonesia yang maju dan sejahtera pada 2030, termasuk kemajuan di bidang iptek yang telah banyak diperlihatkan anak-anak muda milenial. "Kita juga punya bonus demografi sebanyak 200 juta yang akan berperan penting pada 2030," katanya. 

Modal sosial, budaya dan alam itu menurutnya telah membuat iri banyak negara lain. Mereka coba mengganggu, bahkan berupaya menghancurkan bangsa Indonesia dengan menyebarkan virus intoleransi dan ajaran-ajaran radikal untuk memecah belah soliditas yang ada.

"Yang berbeda katanya harus dianggap musuh, bahkan boleh dikerasi, itu ajaran yang tak sesuai etika bangsa kita yang menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, juga tidak sesuai budaya gotong royong kita," katanya. 

Budaya gotong royong tanpa membedakan ras, etnis, golongan, agama, status sosial dan perbedaan gender, menurut Sofyan Tan, terbukti 74 tahun lalu telah berhasil memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajah. Karena Ketua Dewan Pembina YP SIM itu mengingatkan untuk selalu belajar dari Bung Karno, Megawati Soekarno Putri, Abdurrahman Wahid, B.J. Habibie, SBY dan Presiden Joko Widodo.

Segri, guru bahasa Buddha yang etnis Tamil, mengaku saat kanak-kanak ia juga kerap bermain engklek, patok lele, lompat karet dan kasti dengan anak Tamil lain di halaman Vihara Loka Shanti, Medan Polonia. "Saya bahkan tak kenal lagi dengan permainan trafisional etnis Tamil. Itu karena saya adalah bangsa Indonesia," ujarnya usai bermain engklek dengan guru lain di Sekolah Sultan Iskandar Muda. 

Monday, August 12, 2019

Prisciliia, Komikus Cilik Siswa SMP YPSIM

ANDRIODEV
KOMIKUS CILIK: Priscillia Zaneta Tampubolon, seorang komikus cilik memperlihatkan “Komik Kakak yang Baik”, kompilasi karya empat komikus cilik, yang terbit 2018.
BOOMING anime Jepang di Ta­nah Air, tak hanya  mengilhami mun­culnya para pelaku ekonomi  kreatif seperti desainer cosplay, pakaian be­serta aksesori dan rias wajah yang meniru tokoh-tokoh dalam anime atau manga, tapi juga lahirnya komikus kecil di Tanah Air. Priscillia Zaneta Tampubolon (12), siswa SMP Sultan Iskandar Muda, Medan Sunggal, salah satu contohnya.

Sejak duduk di bangku TK, Pricilia memang sudah hobi membaca komik Jepang Miiko.

"Sudah mengoleksi sampai 30 episode," tuturnya saat ditemui di SMP Sultan Iskandar Muda, Selasa (6/8). Miiko awalnya adalah seri manga (ko­mik tanpa teks) shojo bergenre komedi karya Eriko Ono yang kemu­dian  di­adaptasi menjadi seri anime berjum­lah 42 episode yang dipro­duksi Toei Animation dan ditayang­kan pada sa­luran TV Asahi sejak 14 Februari 1998 hingga 6 Februari 1999.

Tokoh Miiko, menurut Priscilia, tergolong anak perempuan yang baik walau kadang bertingkah agak ban­del. Tertarik dengan komik Jepang tersebut, Priscilia yang punya hobi menggambar sejak kecil mulai belajar membuat komik sendiri dengan me­niru style lukisan bergaya oriental itu.

Saat menginjak bangku kelas V SD, Pricillia pernah menjadi juara lomba menggambar yang diadakan  perusa­haan coloring material di Me­dan. Melihat bakat putri sulung­nya, ayah­nya, Leonard Tampubolon lalu men­coba mencari media lain untuk me­nya­lurkan bakat anaknya.

Menjelajah Waktu

Saat bersilancar di dunia maya itu itulah Leonardo Tampubolon menge­tahui ada progran Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK), sebuah program dari divisi Penerbit Mizan Daar!, di Ban­dung. KKPK menjaring penulis dan komikus usia 7-12 tahun.

Program KKPK itu dikompetisi­kan secara terbuka untuk anak-anak SD di tanah air. Priscilia mengirimkan 10  komik cerita, masing-masing ce­rita memiliki panjang  6-8 halaman, di mana satu halaman bisa memuat antara 4-6 gambar. Dari 10 komik yang dikirim, satu komiknya yang berjudul "Menjelajah Waktu" terpilih untuk dibukukan bersama tiga komi­kus cilik lain dalam buku komik berjudul "Kakak yang Baik. " Buku itu terbit pada tahun 2018.

Tokoh utama komik itu adalah Jere­my, seorang anak laki-laki. Selain Jeremy ada Pofesor Che, ahli penemu teknologi mesin waktu. Dikisahkan Jeremy merasa bahwa ibunya telah berubah jadi galak dan kurang  per­hatian kepada dirinya. Suatu hari saat ia disuruh ibunya untuk tidur siang usai sekolah, Jeremy justru lari ke rumah Profesor Che.

Di sana ia melihat mesin waktu temuan Profesor Che.  Namun mesin waktu itu belum sempurna dikerjakan sehingga Profesor Che melarang Jere­my yang ingin masuk ke masa purba untuk melihat Dinosaurus. Saat Pro­fesor Che lengah mengawasi Jeremy karena bel rumahnya berbunyi, Jere­my nekat masuk ke pintu mesin waktu. Ternyata bukan Dinosaurus yang ia lihat sebuah perumahan yang serasa pernah ia lihat.

Di jalan Jeremy melihat seorang laki-laki tengah mendorong gerobak kayu dengan memukul gong tembaga kecil yang berbunyi dung-dung. Ternyata laki-laki itu adalah peda­gang es dung-dung,

Setelah berjalan lebih jauh lagi,  ia bertemu anak-anak yang tengah bermain egrang. Ada juga pedagang putu bambu keliling. "Jeremy juga melihat orang menelepon dengan telepon gantung yang baru bisa di­pakai setelah dimasukkan uang lo­gam. Ternyata Jeremy masuk ke masa lalu saat keadaan masih be­lum maju seperti sekarang," tutur Pris­cillia.

Pemandangan yang  paling mem­buat Jeremy terkejut adalah saat  dari jendela ru­mahnya yang terlihat masih sederhana, ia melihat balita tengah digendong manja oleh perempuan muda. Ter­nyata itu dirinya dan ibunya.

Jeremy akhirnya sadar bah­wa ibu­nya ternyata sa­ngat sayang terhadap dirinya. Hanya dia saja yang tidak mau menuruti nasihat  ibu­nya.

Ingin Jadi Desainer

Mencipta komik menurut Priscillia akan terus dite­ku­ninya. Meski begitu, remaja putri yang tengah menulis ce­rita pendek tentang anak kota yang berubah jadi anak pantai itu, justru punya cita-cita ingin jadi seorang de­sainer. Beberapa contoh gaun pesta yang pernah ia lihat di instagram, telah me­narik minatnya untuk mulai mencoret-coret rancangan gaun.

Kemampuannya meng­gam­bar, ke­lak sangat bergu­na  jika remaja  ke­lahiran Bekasi, 21 November 2007 itu,  benar-benar memilih men­jadi seorang desainer.

Friday, August 2, 2019

Harap Cemas Peraih Beasiswa Bidikmisi

ANDRIODEV
DITERIMA DI PTN: Sebanyak 21 siswa SMA/SMK YP Sultan Iskandar Muda Medan Sunggal diterima di sejumlah PTN di Tanah Air, diabadikan bersama Koordinator Program Anak Asuh, Sahayu Surbakti, ST, usai rapat koordi­nasi di sekolah Sultan Iskandar Muda, Rabu (24/7).

Medan, (Analisa). Bisa diterima di perguruan tinggi negeri, apalagi pada jurusan yang ditengarai tengah 'naik daun' alias banyak dilirik pasar tenaga kerja, tentu sebuah kebanggaan tersendiri. Terle­bih lagi bagi mereka yang semasa me­nempuh pendidikan di SMA berstatus sebagai anak asuh.

Inilah yang dirasakan Ibra Wijaya, siswa SMA Sultan Iskandar Muda, Medan Sunggal. Pada SNMPTN 2019, Ibra diterima di Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra China, Universitas Su­ma­tera Utara (USU). Jurusan Sastra China memang jadi pilihan utama Ibra. Maklum, Ibra adalah peranakan Ti­ong­­hoa-Jawa. Ada rasa penasaran dari Ibra suatu saat bisa mengunjungi tanah leluhur ayahnya.

"Terus terang saya sangat terkejut, semula enggak yakin, karena yang men­daftar ke sastra China setahu saya banyak Tentu saya gembira saat buka website, nama saya tercantum," tutur Ibra ketika ditemui di Ruang Tamu Kantor Kepala Sekolah Perguruan Sultan Iskandar Muda, Rabu (24/7).

Bungsu dari dua bersaudara itu ha­nya satu dari 21 siswa anak asuh di se­kolah tersebut yang diterima di se­jumlah PTN terkemuka di Tanah Air. Pagi itu, ke-21 anak asuh itu melaku­kan rapat koordinasi Koordinator Program Anak Asuh Perguruan Sultan Iskandar Muda, Sahayu Surbakti, ST.

"Tentu kami bangga, alumni SMA dan SMK kami yang juga siswa anak asuh diterima di sejumlah PTN di Medan, Bandung, Bali, Lampung dan Aceh," ujar Sahayu Surbakti, sarjana Teknik Arsitektur dari Fakultas Teknik USU yang dulunya juga berstatus sis­wa anak asuh.

Selain Ibra Wijaya ada juga Fahru­rrozi Nugraha yang diterima di Fa­kultas Pertanian USU Jurusan Agro Tek­nologi dan Desna Yulike Sinaga yang diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Medan (Unimed).

Para anak asuh ini pasca-diterima di PTN menghadapi masalah yang ham­pir sama, yakni keterbatasan bia­ya kuliah. Maklum, latar belakang ekonomi keluarga mereka umumnya berasal dari keluarga prasejahtera. Ada yang orangtuanya pegawai penjaga toko, tukang tambal ban, buruh cuci dan setrika dari rumah ke rumah sam­pai petani gurem.

Tak heran jika Ibra, Rozi maupun Desna saat ini mengajukan diri sebagai calon mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Program ini merupakan besutan Pemerintah Joko Widodo yang memberikan bantuan biaya pen­di­dikan bagi calon mahasiswa miskin namun memiliki potensi akademik cemerlang. "Saya sangat berharap bisa mendapat beasiswa bidikmisi, kalau berharap dari orangtua terus terang susah," ujar Desna Sinaga.

Ayah Desna kini sudah tak bisa bekerja keras lagi karena menderita sakit jantung, sementara ibunya hanya petani jagung lahan sempit. Kadang untuk menambah pendapatan, ibunya nyambi menjadi tukang kusuk bayi.

Diperjuangkan semaksimal mungkin

Ketua Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Finche, SE, MPSi saat dikonfirmasi merasa optimis 21 siswa yang berstatus anak asuh dan diterima di PTN bakal lolos saringan beasiswa bidikmisi. "Karena dari sisi ekonomi, mereka jelas berasal dari keluarga tak mampu," katanya.

Sementara dari sisi akademik, siswa anak asuh juga merupakan hasil se­leksi ketat dari sejumlah tes yang dila­kukan pengurus Program Anak Asuh Sultan Iskandar Muda. Dan terbukti mereka juga banya lolos ujian SNM­PTN.

"Untuk rekrutmen calon anak asuh selain ada tes tertulis, juga ada wawan­cara dan tes psikologi, di samping ob­servasi kehidupan ekonomi orangtua," ujar Sahayu Surbakti.

Finche sendiri memastikan akan memperjuangkan secara maksimal ke-21 anak asuh tersebut agar bisa diteri­ma sebagai penerima program bea­siswa bidikmisi. "Kalau ada yang tidak lolos, akan kita perjuangkan lewat jalur aspirasi lewat dr Sofyan Tan," ujarnya.

Pihak yayasan sendiri juga akan membantu biaya hidup anak asuh, teru­tama mereka yang diterima di luar Medan. Biaya hidup itu misalnya un­tuk sewa kos dan makan sehari-hari.

Sebagaimana diketahui, dr Sofyan Tan adalah anggota Komisi X DPR RI periode 2014-2019 yang untuk kedua­kalinya terpilih lagi sebagai anggota dewan periode 2019-2024. Selama em­pat tahun masa pengabdiannya, Sof­yan Tan berhasil mengucurkan ber­bagai bantuan pendidikan yang dipergunakan untuk perbaikan sarana dan prasarana sekolah di Sumut. Ter­masuk berbagai bantuan tunai kepada  siswa dan mahasiswa dari keluarga miskin. Dengan rekam jejak seperti itu, Finche optimis 21 anak asuh Per­guruan Sultan Iskandar yang diterima di berbagai PTN pada 2019, dapat me­lanjutkan pendidikan mereka di pergu­ruan tinggi. "Masa untuk siswa dari sekolah lain bisa dibantu, siswa dari sekolah sendiri, siswa anak asuh lagi, tidak bisa dibantu?" ujar Finche. (ja)

Monday, July 29, 2019

PGTK SIM Ajak Siswa Budayakan Permainan Tradisional

ANDRIODEV
MAIN CONGKLAK - Ratusan anak-anak PG-TK YPSIM beserta orangtua tampak gembira menikmati permainan tradisional salah satunya congklak saat Hari Anak Nasional, Sabtu (27/7)
Adanya Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Indonesia dirayakan setiap tanggal 23 Juli salah satunya  bertujuan untuk menghormati hak-hak anak Indonesia.  Adapun sejumlah hak – hak anak yakni hak untuk bermain, hak untuk mendapat pendidikan, hak mendapat nama (identitas), hak untuk mendapatkan status kebangsaan, hak untuk mendapatkan makanan, hak untuk mendapatkan akses kesehatan, hak untuk mendapatkan rekreasi, hak untuk mendapatkan kesamaan, dan hak untuk memiliki peran dalam pembangunan.

Untuk memperingati Hari Anak Nasional tahun 2019, PG-TK Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Jalan T Amir Hamzah, Medan Sunggal,  Sabtu (27/7) menggelar kegiatan tersebut dengan melibatkan 254 anak– anak beserta para orang tua. Acara yang berlangsung meriah ini dikemas secara apik dengan konsep bermain dan berkreasi untuk meningkatkan aspek perkembangan fisik motorik, khususnya motorik kasar anak.

Kepala Sekolah PG TK Sultan Iskandar Muda Yus Cinta Miati, S.S mengatakan, dalam peringatan HAN banyak keseruan  terjadi. Anak–anak diajak bermain permainan tradisional dengan riang gembira didampingi oleh orang tua masing–masing dan menikmati beragam dongeng. "Acara ini dilaksanakan agar anak-anak  mengetahui bahwa diri mereka juga diperhitungkan sebagai anak bangsa  yang memiliki peran dalam pembangunan,"kata Yus Cinta Miati.

Melalui pelaksanaan HAN,  Yus Cinta Miati berharap, anak-anak bisa tumbuh sehat, cerdas, berkreasi dan memiliki akhlak baik sekaligus mengetahui bahwa negara kita yang terdiri dari beragam etnis budaya juga  memiliki banyak permainan tradisional di dalamnya .

"Di jaman modern seperti saat ini, setidaknya anak-anak mesti tahu bahwa dulunya Indonesia punya permainan tradisional seperti engklek, congklak, bermain karet, ular naga dan lainnya. Kita harapkan anak-anak jangan hanya akrab dengan tekhnologi, game-game di komputer dan android. Padahal permainan tradisional ini dulunya pernah dimainkan para orangtua mereka ,"tutur Yus.

Dalam perayaaan HAN, anak-anak juga diajak melakukan Gernas Baku (Gerakan Nasional Membaca Buku) dimana orang tua membacakan buku untuk anak-anaknya dan difasilitasi oleh perpusatakaan YPSIM serta mengasah kreativitas, imajinasi  dan motorik halus anak melalui kegiatan mixing colour, face panting , wishing tree,  kolase,

Sebelumnya Dewan Pembina YP Sultan Iskandar Muda dr Sofyan Tan melalui Ketua Yayasan Finche SE mengajak semua pihak peduli kepada dunia pendidikan anak. "Kegiatan ini merupakan acara rutin tahunan kita. Melalui peringatan HAN semoga  anak dan orang tua semakin kompak. Karena pada jaman sekarang ini, orang tua dituntut untuk lebih aktif ikut serta dalam pendidikan putra–putrinya. Orang tua wajib memberi  hal–hal yang mendidik kepada anak. Apalagi sekarang marak penggunaan android oleh anak–anak. Sebisa mungkin pemakaiannya tidak berlebihan.” kata Finche.

Melalui kegiatan ini Finche juga mengingatkan orang tua agar selalu mendampingi setiap tumbuh kembang anak-anaknya.Hal ini bisa dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keahlian yang mereka miliki."Salah satu yang perlu diwaspadai adalah narkoba. Tumbuh kembangnya harus diawasi agar terhindar dari narkoba,"ucap Finche.

Monday, July 22, 2019

Otak, Harta Berharga Orang Miskin

ANDRIODEV
Anak Asuh YP Sultan Iskandar Muda. Ketua Dewan Pembina YP Sultan Iskandar Muda bersama Ketua YP SIM, Finche SE, M.Psi dan Kasek SMK, Ely Silitonga, S.Pd,  berfoto bersama para anak asuh dan orangtua anak asuh usai acara Penandatanganan Perjanjian Anak Asuh di Auditorium Bung Karno, Kamis (18/7)
Harta orang miskin yang berharga dan tak bisa dicuri adalah otak. Meski miskin tapi kalau otak encer, peluang orang miskin mengubah kehidupan ekonomi mereka menjadi lebih baik sangat besar. Medianya lewat pendidikan yang bermutu. Namun proses pendidikan di Perguruan Sultan Iskandar Muda tak hanya menjadikan orang miskin pintar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi  sebagai modal meraih kehidupan ekonomi yang lebih baik.  

"Tapi juga menjadikan mereka figur atau calon pemimpin bangsa yang bisa merangkul semua orang, semua golongan yang plural itu," ujar Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Medan Sunggal, dr. Sofyan Tan saat memberi sambutan pada acara Penandatanganan Surat Pernyataan Anak Asuh, di Auditorium Bung Karno, Kompleks Perguruan Sultan Iskandar Muda, Kamis (18/7).

Pada tahun ajaran 2019/2020 ini, sekolah yang kerap mendapat penghargaan karena kepedulian sosial mereka memberdayakan anak-anak miskin dan konsisten mendorong nilai-inilai inklusivitas itu, menerima sebanyak 167 anak asuh baru. Siswa anak asuh ini mendapat fasilitas bebas uang sekolah sampai mereka menyelesaikan masa pendidikan mereka, baik di unit TK, SD, SMP, SMA maupun SMK.

Sebanyak 167 siswa anak asuh itu merupakan hasil seleksi dari 369 calon anak asuh yang mendaftar. Mereka terpilih lewat serangkain observasi, tes tertulis, tes psikologi dan wawancara mendalam. Saat ini di Perguruan Sultan Iskandar Muda total ada 411 siswa berstatus anak asuh dari 3.222 jumlah siswa yang ada.

Acara penandatangan perjanjian anak asuh itu dihadiri Ketua Yayasan Perguruan (YP) Sultan Iskandar Muda, Finche, SE, M.Psi, Pimpinan Sekolah, Edy Jitro Sihombing, M.Pd, Koordinator Program Anak Asuh, Sahayu Surbakti, ST, para kepala sekolah,  anak asuh dan para orangtua anak asuh.

Ubah Hidup
Sebagai orang yang juga berlatar dari keluarga miskin,  dr. Sofyan Tan mengaku bangga karena pada tahun ini ada sebanyak 79 siswa Sultan Iskandar Muda yang diterima di Perguruan Tinggi Negri (PTN) terkemuka di tanah air lewat jalur SNMPTN.

"Dari jumlah tersebut, sebanyak 21 siswa merupakan siswa anak asuh. Mereka bahkan ada yang diterima di IPB Bogor," kata anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan itu. Pada tahun lalu bahkan ada dua siswa anak asuh yang diterima didua universitas negri terkemuka di tanah air,   ITB dan UI.

"Nikson Simarmata, anak asuh yang kini kuliah di UI Jurusan Matematika bahkan  IPK-nya 3,73," tambah Sofyan Tan. Padahal orangtua Nikson Simarmata hanya seorang petani singkong gurem.

Hal itu menunjukkan bahwa meski orang miskin dan berkekurangan dalam pemilikan harta berharga seperti uang atau emas permata,  namun mereka memiliki harta paling berharga, yakni otak yang encer.

Otak yang encer inilah menurut Sofyan Tan jika diberi bekal pendidikan yang berkualitas dan inklusif, kelak bisa mengubah kehidupan ekonomi mereka menjadi lebih baik lagi. Namun  otak yang encer hanya bisa terlahir dari kultur belajar keras. Karena itu Sofyan Tan  mengajak agar anak asuh rajin belajar. Mereka harus punya target meraih nilai terbaik setiap  semester.

"Jika semester ini nilai pelajaran A 7, maka semester depan harus punya target nilai pelajaran A harus 8," ujar Sofyan Tan. Belajar keras saja juga belum  cukup. Orangtua juga harus memberi perhatian serius terhadap pendidikan anak mereka. Sofyan Tan tak ingin orangtua menyerahkan sepenuhnya proses pendidikan anak pada pihak sekolah.

Duta Perdamaian
Pada bagian lain, Sofyan Tan yang pada Pemilu Legislatif 2019 untuk kedua kalinya terpilih sebagai anggota DPR RI itu, juga berharap para anak para anak asuh bisa memerankan diri sebagai duta perdamaian di dunia maya.

"Saya sangat berharap mereka aktif melawan kabar-kabar kebencian bernuansa SARA yang marak di media sosial," ujarnya. Menurut Sofyan Tan, sejak program anak asuh diluncurkan pada 1986, sudah ada 4.441 mantan anak asuh asuh yang tersebar di berbagai kota. Karena itu ia juga berharap seluruh mantan anak asuh tersebut juga ikut tergerak sebagai duta pedamaian di media sosial.

Hanya dalam situasi bangsa yang damai, tidak tercabik-cabik konflik, program-program pembangunan pemerintah bisa berjalan dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat. (JA)

Tim Kerja Pembangun

  • Agus RizalPembina Multikultural
  • Edi Jitro SihombingKepala Perguruan
  • Lando BeninoNetwork Administrator
  • Andrio PrijayaProgrammer
  • HendryVideographer
  • IdrusPhotographer