Judul 1

Judul 1
Deskripsi 1

Judul 2

Judul 2
Deskripsi 2
INFORMASI
Pendaftaran Siswa/i Tahun Ajaran 2018-2019

YPSIM Ter-Update



Saturday, April 21, 2018

Salsa Putri Sihombing, Kartini Millenia dari SMA SIM

Andrio Dev

KampusMedan – Medan, Kartini merupakan sosok yang sangat hebat, perjuangannya patut dihargai perempuan muda Inddonesia, hasil perjuangan Pahlawan Kartini memperjuangkan gender sangat berpengaruh kepada kehidupan Indonesia, khususnya kepada perempuan Indonesia.

Demikian dikemukakan Salsa Putri Sadzwana Sihombing, Siswi Kelas III SMA Sultan iskandar Muda Medan. Menurut siswi yang sudah menulis 8 judul buku ini, kondisi kaum perempuan saat ini sudah mencerminkan terwujudnya cita-cita Kartini di masa lampau, karena perempuan Indonesia sudah menorehkan beragam, bukan hanya di kancah nasional tapi mampu menembus tingkat global, seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani.

“Tapi sebagian perempuan mencoreng nama baik perempuan itu sendiri, seperti fenomena perempuan cabe-cabean, PSK sehingga memberi kesan negatif, padahal harunsya mampu meneruskan estapet perjuangan Kartini masa mendatang”,tegasnya.

Salsa pun memberi saran  terhadap seluruh remaja putri untuk terus berkarya. “Ayo kita berkarya, ayo kita wujudkan cita-cita Kartini di masa lampau untuk mengangkat derajat perempuan. Buatlah prestasi apa pun itu yang sesuai dengan bakat dan kemampuan kita sesuai kepribadian masing-masing. Jangan takut untuk maju karena Kartini sudah memperjuangkan kesetaraan kita sejak dulu”,tambahnya.

Salsa menulis dan menerbitkan buku pertama ketika duduk di bangku SD Kelas VI, kemudian berkarya terus dan hingga kini sudah menulis 8 judul buku, seperti kompilasi cerpen, novel dan komik.

“Sejak TK saya suka membaca, namun karena kondisi ekonomi orangtua yang kurang mendukung, saya tidak mampu membeli buku, maka saya duduk-duduk membaca di toko buku, nongkrong membaca buku di Gramedia, ke perpustakaan. Melihat ada buku karya anak-anak, saya pun terinspirasi menulis buku, dan syukur diterbitkan”,paparnya.

Ditanya soal cita-citanya, Salsa bercita-cita jadi Duta Besar. “Saya ikut test di United World College dan lulus. Maka habis Ujian Nasional ini saya dapat beasiswa dan kuliah di Amerika Serikat. Syukurlah Allah kasih jalan buat saya untuk kelak terwujud menjadi Diuta Besar”,tandasnya.

Ditanya siapa yang mendukung bakatnya menulis, ia mengatakan  hobi menulisnya adalah orangtuanya, khususnya ibunya.” Meski tulisan saya kadang-kadang tidak diterbitkan di beberapa majalah, tapi mama saya tetap mendorong saya untuk terus berkarya. Katanya suartu saat tulisanmu tidak hanya dibaca  di dalam negeri tapi semua orang di dunia”,pungkasnya.(RED/MBB)

Thursday, April 19, 2018

Pendidikan : Jembatan Memajukan Kebudayaan

Andrio Dev

Pada dasarnya pengertian pendidikan (UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Hal ini didasarkan pada fakta bahwa bangsa Indonesia adalah “bangsa yang besar” seperti yang sering kita dengan dan kita dengungkan dalam berbagai kesempatan. Fakta tersebut memang berdasarkan pada kenyataan, bahwa Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar ke-lima didunia (setelah Cina, India, Rusia, Amerika Serikat)  dan sejak tahun 1999 kita telah diklaim sebagai negara demokratis terbesar ketiga sesudah India dan Amerika Serikat.

Selain itu, Indonesia adalah negara yang memiliki sangat banyak kebudayaan. Bukan hanya kebudayaan dari daerah sendiri tapi kebudayaan juga timbul dalam diri sendiri. Indonesia juga melahirkan kebudayaan antara suasana toleransi dan salingmenghargai antar umat beragama sangat tinggi. Di Indonesia  memiliki enam agama yaitu, Islam, Kristen, Khatolik, Budha, Hindu dan Konghucu dan memiliki  1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010.

Disamping melalui pendidikan formal oleh institusi pendidikan, pembangunan sumber daya manusia juga dapat dilaksanakan secara non formal. Disinilah peran pembinaan kesadaran bela negara kepada setiap warga juga menjadi semakin penting dilakukan melalui berbagai upaya internalisasi guna membangun karakter dan perkuatan jati diri bangsa, sehingga mampu mengaplikasikan nilai-nilai bela negara ke semua aspek kehidupan dan mampu juga memajukan kebudayaan. Pasal 31 Ayat 1 hasil amandemen “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.”

Menurut penulis pasal ini merupakan hasil refleksi dan evaluasi dari pelaksanaan pendidikan di Indonesia yang sebelumnya berorientasi pada aspek kognitif dengan mengabaikan aspek afektif dan spikomotor.Tentu pendidikan di Indonesia belum tergolong dengan kata kuat. Aspek ini didasari pada fakta yang ada di Indonesia seperti Kata “pengajaran” dalam pasal 31 ayat 1 sebelum diamandemen rupanya telah mempengaruhi paradigma, sikap, dan tindakan guru dalam mengajar. Guru lebih menekankan pada aspek kognitif dan mengabaikan aspek afektif yang berisi sikap, minat, apresiasi dan sistem nilai. Guru hanya mengembangkan kemampuan otak kanan yang berpikir linier dan kurang mengembangkan kemampuan otak kiri.

Pengabaian aspek afektif ini sangat merugikan siswa secara individual maupun masyarakat secara keseluruhan. Akibatnya peserta didik banyak mengetahui pengetahuan baik itu moral, fisika, ekonomi, maupun matematika namun mereka kurang memiliki sikap dan sistem nilai secara positif terhadap apa yang mereka ketahui, sehingga mereka tidak mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kurang dikembangkannya aspek afektif karena aspek afektif masih sulit digarap secara operasional, baik dalam merumuskan tujuan maupun dalam melakukan evaluasinya pada hal aspek afektif ini sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang, jika seseorang telah memiliki afektif terhadap sesuatu hal maka resiko apapun akan di tempuh.

Hal ini salah satu yang membuat sistem pendidikan di Indonesia menjadi terperosok lemah, sehingga dalam hal menuju memajukan kebudayaan Indonesia juga masih sangat minim. Pendidika dan kebudayaan saling berikatan. Yaitu dikatakan hal penempatan dalam pasal saja, kebudayaan harus pindah 3 kali. Dari semula berada pada pasal 34 bergeser ke pasal 33,  dan akhirnya bergeser lagi menjadi pasal 32 berdampingan dengan pasal 31 tentang pendidikan.

Rumusan kalimatnya amat singkat, yaitu: “Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia.” Menyadari betapa singkatnya kalimat pasal 32, para pendiri bangsa melengkapinya dengan tiga kalimat sebagai penjelasan. Dengan adanya penjelasan itu berbagai pertanyaan mendasar dapat terjawab. Pertanyaan mendasar itu sebagai berikut: Ke mana arah yang akan dituju dalam memajukan kebudayaan bangsa?

Sebagai bangsa yang baru lahir jawaban atas pertanyaan itu penting agar bangsa itu tidak salah langkah. Jawaban pertanyaan tersebut, ke mana arah yang akan dituju dalam memajukan kebudayaan terdapat pada frasa yang berbunyi: “Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan…” Amat jelas, ke mana arah yang harus dituju dalam memajukan peradaban bangsa Indonesia di tengah-tengah peradaban dunia, dan ke mana arah memajukan Persatuan Bangsa yang Multietnik dan Multikultur. Sehingga dalam berteman atau pun bersosialisasi tidak memandang apakah itu agamanya, suku, ras dan etnis.

Karena pada hakikatnya tetap saja satu tujuan yang akan dicapai. Oleh karena itu,Pendidikan merupakan jembatan untuk memajukan Kebudayaan yang positif. Semakin kuat Pendidikan semakin maju kebudayaan yang ada sehingga Kebudayaan lain tidak akan mempengaruhi Kebudayaan yang ada.(Oleh Sri Agustina, Siswa SMA Sultan Iskandar Muda Medan)

Kurangi Kenakalan Remaja Dengan Kearifan Lokal

Andrio Dev

Plato adalah murid Socrates yang paling terkemuka yang mengembangkan sistem filsafatnya sendiri secara lengkap. Ia adalah orang pertama yang mendirikan sebuah akademi (suatu pusat studi). Menurut Plato, negara local harus berlandaskan pada prinsip keutamaan yaitu adalah pengetahuan. Plato melihat pentingnya lembaga pendidikan bagi kehidupan kenegaraan. Menurutnya, tidak ada cara lain yang paling efektif untuk mendidik warga negara agar menguasai  pengetahuan kecuali dengan membangun lembaga-lembaga pendidikan itu. Motivasi inilah yang mendorong Plato membangun sekolah akademi pengetahuan.

Pendidikan itu sebenarnya merupakan suatu tindakan pembebasan dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Dengan demikian, jelaslah pula bahwa peranan pendidikan paling utama bagi manusia adalah membebaskan diri memperbaharui moralitas jiwa mengantarnya ke ideal yang tinggi yaitu kebajikan, kebaikan, dan keadilan. Plato yang menekankan perlunya pendidikan direncanakan dari diprogramkan sebaik-baiknya agar mampu mencapai sasaran yang diidamkan.

Menurut KBBI, pendidikan berasal dari kata didik dan mendapat imbuhan ”pe” dan akhiran “an” maka kata pe mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik secara bahasa. Defenisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran atau pelatihan. Semua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk masyarakat dalam proses pembangunan nyata untuk menjadi negara yang lebih maju.

Di Indonesia sendiri, pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan telah menjadi citra tersendiri bagi sejarah pendidikan di Indonesia. Ia adalah embrio model pendidikan klasik Indonesia yang dulu dipandang cocok dan cikal untuk mengembangkan dan mengaktualkan potensi generasi muda Indonesia dan aspek personal lainnya seperti dimensi sosialitas dan spiritualitasnya.

Refleksi dan evaluasi atas perkembangan pendidikan Indonesia dengan segudang persoalannya dewasa ini mestinya berangkat dari sana. Upaya demikian memang tidak mudah, sebab munculnya persoalan pendidikan dewasa ini tidak terlepas dari kerangka upaya menanggapi tantangan zaman sekarang yang dilakukan oleh Ki Hajar Dewantara tempo dulu. Tuntutan dunia pendidikan di Indonesia zaman sekarang yang lebih bervariasi di Indonesia dimana Ki Hajar Dewantara menggagas konsep pendidikan yang boleh jadi memang sangat dibutuhkan kala itu.

Tidak sedikit permasalahan muncul pada pendidikan. Hal utama pada pendidikan masa kini yang semakin banyak menuai permasalahan dan kurang antisipasi objek permasalahan dan untuk mengatasi masalah tersebut dengan baik. Permasalahan tersebut yaitu globalisasi, perubahan sosial budaya, profesionalisme guru, strategi pembelajaran, dan yang langsung bersangkutan dengan siswa zaman sekarang adalah kenakalan remaja.

Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada saat kanak-kanaknya. Masa kanak-kanan dan masa remaja berlangsung sangat singkat dan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat secara psikologis. Kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya seringkali didapati bahwa ada trauma pada masa lalunya.

Dilihat dari factor eksternalnya ada beberapa hal yang mempengaruhi kenakalan remaja. Yang pertama adalah factor keluarga. Perceraian orang tua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negative pada remajanya. Pendidikan yang salah di keluarga pun seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama atau pendidikan terhadap eksistensi anak bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja. Yang kedua adalah komunitas atau lingkungan atau sekolah atau tempat tinggal yang kurang baik.

Dilihat dari faktor internalnya ada dua hal yang menyebabkan kenakalan remaja yang pertama adalah krisis identitas perubahan sosiologis dan biologis pada remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbetuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya dan tercapainya identitas peran kenakalan remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi.

Yang kedua adalah kontrol diri yang lemah. Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan hasrat pada perilaku nakal. Begitu pun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut. Namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

Adapun akibat yang ditimbulkan yang dilakukan kenakalan remaja seperti pada dirinya sendiri. Akibat dari kenakalan yang dilakukan oleh remaja akan berdampak bagi dirinya sendiri sangat merugikan baik fisik maupun mental. Walaupun perbuatan itu dapat memberikan suatu kenikmatan tetapi itu semua hanya kenikmatan sesaat saja. Dampak bagi mental yaitu kenakalan remaja tersebut akan mengantarnya kepada mental yang lemah, berfikir tidak stabil dan kepribadiannya akan terus menyimpang di segi moral yang pada akhirnya dapat menyalahi aturan etika dan estetika.

Dampak bagi keluarganya adalah berakibat ketidakharmonisan didalam keluarga dan putusnya komunikasi antara orangtua dan anak sehingga akhirnya kenakalan anak akan semakin meningkat dan pada akhirnya keluarga akan merasa malu. Dampak bagi lingkungan masyarakat adalah masyarakat akan menganggap bahwa remaja itu adalah tipe orang yang tidak bermoral.

Dewasa ini, kenakalan remaja telah menjadi penyakit ganas ditengah masyarakat, mengingat remaja merupakan bibit pemegang tampuk pemerintahan negara ini masa depan. Masalah ini merupakan masalah yang perlu disikapi oleh pendidikan zaman sekarang.

Kini tuntutan pendidikan semakin meningkat. Untuk itu ada pendidikan dan pembinaan moral terhadap remaja sebagai penerus bangsa agar memiliki akhlak yang baik dan bertanggung jawab. Namun pada kenyataannya, semakin berkembang ilmu pengetahuan dan teknologi membuat remaja telah sensitive dalam menanggapi hal itu.

Pada akhirnya tak sedikit remaja yang terjerumus kedalam hal-hal yang bertentangan dengan nilai moral, nilai agama, norma sosial serta norma hidup di masyarakat. Oleh karena itu remaja akan cenderung mempunyai tingkah laku yang tidak pantas. Kenakalan remaja inilah yang menjadikan diri kita semakin terbelakang dan tertinggal jauh untuh dapat membangun negara Indonesia ini menjadi negara yang baik dan maju.

Guru sebagai pelaku langsung pendidikan memiliki peran dalam menanggulangi kenakalan remaja yang terjadi di dunia pendidikan. Yang pada dasarnya peran guru adalah sebagai pendidik, pengajar, dan pembimbing, komunikator, motivator, mediator, informatory, evaluator, dan sebagai pelaku langsung untuk menanggulangi kenakalan remaja guna meningkatkan pendidikan anak bangsa.

Selain pendidikan karakter yang sekarang ini menjadi satu tranding pendidikan nasional dan pendidikan keluarga. Hal lain yang perlu dicoba untuk mengurangi kenakalan remaja adalah dengan cara pendidikan adat istiadat. Selain mengubah pola pikir, namun juga mempertahankan pengetahuan remaja tentang adat istiadatnya tersebut kearifan lokal yang berada di Indonesia salah satu yang menarik adalah kearifan local Batak Toba yaitu Dalihan Natolu. Kearifan local tampaknya  seperti obat masyarakat dalam upaya melihat kompleksitas permasalahan yang tidak rasional dalam menaklukkan alam. Salah satu nilai budaya yang menjadi kebanggaan orang Batak Toba yaitu sistem hubungan sosial dalihan Natolu yang terwujud dalam hubungan kekerabatan yang sangat kental berdasarkan keturunan darah dan perkawinan yang berlaku secara turun temurun hingga sekarang ini sebagai sistem budaya.

Dalihan Natolu atau sering juga diterjemahkan dengan istilah tungku nan tiga. Pengertiannya dalam budaya Batak tentu akan berbeda pengertian dan maknanya nilai budaya lain yang ada di Sumatera seperti tungku tiga sejarangan benang tiga sepilin, paying tiga sekaki, dan lain sebagainya. Berfungsi sebagai pedoman yang mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tata laku dan perbuatan (sikap atau pola tindak) orang Batak Toba.

Oleh karena itu Dalihan Natolu merupakan satusistem budaya yang bagi orang Batak Toba nilai yang dikandungnya dijadikan teladan hidup dan sekaligus menjadi sumbermotivasi berperilaku. Orang Batak Toba menghayati Dalihan Natolu sebagai satu sistem nilai budaya yang memberi pedoman bagi orientasi, persepsi, dan defenisi terhadap kenyataan atau realitas (Harahap Siahaan, 1987).

Bagi orang Batak Toba salah satu ciri khas dalihan natolu yang dinilai tinggi adalah sistem kekerabatan dalam konteks keluarga luas. Dalam konteks ini dalihan natolu berperan mengatur hubungan sosial diantara tiga kerabat secara fungsional, yaitu kerabat semarga (dongan tubu), kerabat penerimaan istri atau yang disebut boru, dan kerabat pemberi istri yang dikenal dengan istilah hula-hula. Perlu kita ketahui bahwa marga dalam sistem kekerabatan orang Batak Toba, demikian juga orang Minang, berdasarkan keturunan sedarah berbeda dengan pengertian fam yang ada di daerah lain.

Oleh karena itu, perkawinan semarga bagi orang Batak sangat dilarang meskipun daerah asal mereka berbeda. Secara operasional hubungan sosial yang dibangun dalam sistem budaya dalihan na tolu dilakukan dalam bentuk perilaku hati-hati kepada kerabat semarga atau disebut dengan manat mardongan tubu, perilaku membujuk kepada pihak penerima istri atau yang dikenal dengan elek marboru dan perilaku bersembah sujud kepada pemberi istri atau dikatakan juga somba marhula-hula.

Oleh karena itu, bagi orang Batak Toba penerapan hubungan sosial yang ada di dalam budaya dalihan na tolu menuntut adanya kewajiban individu untuk bersifat dan berperilaku pemurah kepada orang-orang yang memiliki hubungan kerabat, yaitu dengan tubu boru dan hula-hula. Yang menarik dari kearifan lokal tersebut adalah dimana setiap orang diatur dalam setiap tingkah lakunya dan mengklasifikasikan bagaiman cara kita bersikap kepada setiap orang.

Masalah kenapa kenakalan remaja marak adalah kurangnya pendidikan karakter pada remaja zaman sekarang. Kenakalan remaja dominan terjadi di daerah perkotaan. Hal ini terjadi karena memang kehidupan di daerah perkotaan lebih keras dan lingkungan yang lebih berfariasi. Sehingga mengubah pola pikir remaja. Yang menjadi perbedaan dengan remaja yang tinggal di daerah yang adat istiadat nya masih kental adalah mereka cenderung lebih menghormati sesamn nya. Karena pendidikan karakter dari adat istiadat tersebut sudah diajarkan sejak dini.

Oleh karena itu pendidikan adat istiadat sangat penting bagi remaja untuk mengurangi kenakalan remaja dimana pendidikan adat istiadat tersebut salah satunya adalah dalihan natolu. Dimana peran dalihan natolu adalah mengubah karakter remaja menjadi sosok yang menghormati siapa saja, sehingga kenakalan remaja dapat teratasi.

Dalam mengatasi kenakalan remaja guna meningkatkan pendidikan dan memperdalam nilai2 budaya dakam diri seorang remaja maka ada beberapa peran yang secara aktif dan bertahap dalam memberikan pendidikan karakter tersebut. Yang pertama adalah peran serta keluarga. Sangat diperlukan adanya pengawasan dari orang tua namun tidak mengekang serta pengawasan yang intensif terhadap media komunikasi dan juga mendukung hobi yang anak inginkan selama hal tersebut masih bersifat positif.  Dan juga keluarga sangat perlu mengajarkan anak sejak dini tentang pendidikan adat istiadat agar kearifan lokal tersebut tetap melekat pada diri anak dan dijadikan sebagai pedoman dalam bertingkah laku.

Yang ke dua adalah peran sekolah.  Sekolah merupakan pembinaan yang telah diletakkan dengan dasar-dasar dalam keluarga. Sekolah harus memberikan pengajaran nilai dan norma kepada anak didiknya. Partisipasi masyarakat diperlukan untuk berperan aktif menciptakan kondisi yang aman, nyaman tenteram dan damai. Sehingga ini yang akan membentuk karakter remja menjadi pribadi yang lebih positif.

Budaya dalihan na tolu mengatur dan mengendalikan kehidupan orang Batak Toba tidak hanya dalam konteks ikatan adat saja tetapi juga dakam bidang pendidikan karakter remaja. Pengaruh yang begitu kuat dari budaya dalihan natolu terhadap orang

Batak Toba dan kemungkinan akan memenangkan masalah remaja zaman sekarang guna menciptakan remja yang pendidikan nya tinggi dan juga dibarengi dengan sikap dan pengetahuan akan kearifan lokalnya sendiri.(Oleh Ayu Neng Sari Situmorang, Siswi SMA Sultan Iskandar Muda Medan)

Sumber : http://www.kampusmedan.com/2018/04/19/mengurangi-kenakalan-remaja-dengan-meningkatkan-kearifan-lokal/

Friday, December 29, 2017

Kisah Inspiratif Si Tukang Kayu, Sederhana Kini Mendunia

Andrio Dev

Masa kecil tukang kayu ini bukanlah orang yang berkecukupan, bukanlah orang kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai. Ia tau bagaimana menjadi orang miskin dalam artian yang sebenarnya.Bapaknya penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian.

Ia sering ke pasar, pasar tradisional dan berdagang apa saja waktu kecil. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pedagang dikejar-kejar aparat, diusiri tanpa rasa kemanusiaan, pedagang ketakutan untuk berdagang. Ia prihatin, ia merasa sedih kenapa kota tak ramah pada manusia.Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk dikumpulkan biaya sekolah, ia mandiri sejak kecil tak ingin menyusahkan bapaknya yang tukang kayu itu. Ia mengumpulkan uang receh demi receh dan ia celengi di tabungan ayam yang terbuat dari gerabah. Kadang ia juga mengojek payung, membantu ibu-ibu membawa belanjaan, ia jadi kuli panggul.

Sejak kecil ia tau bagaimana susahnya menjadi rakyat, tapi disini ia menemukan sisi kegembiraannya.Ia sekolah tidak dengan sepeda, tapi jalan kaki. Ia sering melihat suasana kota, di umur 12 tahun dia belajar menggergaji kayu, tangannya pernah terluka saat menggergaji, tapi ia senang dan ia gembira menjalani kehidupan itu, baginya “Luwih becik rengeng-rengeng dodol dawet, tinimbang numpak mercy mbrebes mili”. Keahliannya menggergaji kayu inilah yang kemudian membawanya ingin memahami ilmu tentang kayu.Lalu ia berangkat ke Yogyakarta, ia diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, jurusan kehutanan.

Ia pelajari dengan tekun struktur kayu dan bagaimana pemanfaatannya serta teknologinya. Di masa kuliah ia jalani dengan amat prihatin, karena tak ada biaya hidup yang cukup. Kuliahnya disambi dengan kerja sana sini untuk biaya makan, ia sampai lima kali indekost karena tak mampu biaya kost dan mencari yang lebih murah.Hidup dengan prihatin membawanya pada situasi disiplin, Jokowi mampu menerjemahkan kehidupan prihatinnya lewat bahasa kemanusiaan, bahwa dalam kondisi susah orang akan menghargai tindakan-tindakan manusiawi, disinilah Jokowi belajar untuk rendah hati.Setamat kuliah ia tetap menjadi tukang gergaji kayu, tapi ia sudah memiliki wawasan, ia melihat industri kayu berkembang pesat, ia mendalami mebel.

Disini ia pertaruhkan segalanya, rumah kecil satu-satunya bapaknya ia jaminkan ke Bank. Dan ia berhasil, ia bukan saja tapi ia juga pengambil resiko yang cerdas, ia berhasil dari sebuah bengkel mebel dengan gedek disamping pasar yang kumuh berhasil dikembangkan. Ia menangis ketika pekerja-pekerjanya bisa makan.Suatu saat ia kedatangan orang Jerman bernama Micl Romaknan, orang Jerman ini kebetulan tidak membawa grader (ahli nilai) kayu, ia ngobrol dengan si tukang kayu , kata orang Jerman itu : “Wah, di Jepara saya ketemu orang namanya Joko, baiklah kamu kunamakan saja Djokowi, kan mirip Djokovich” akhirnya terciptalah sebuah nickname Jokowi yang melegenda itu.

Perkembangan bisnisnya bagus, ia dipercaya kerna ia jujur, orang Jerman suka dengan orang yang jujur dan pekerja keras, Jokowi hanya tidur 3 jam sehari, selebihnya adalah kerja. Ia tak pernah makan uang dari memeras atau pungli, ia makan dari keringatnya sendiri. Dengan begitu hidupnya berkah. Jokowi berhasil mengekspor mebel puluhan kontaner dan ia berjalan-jalan di Eropa.Tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang mengunjungi Eropa dengan cara hura-hura atau foto sana, foto sini tanpa memahami hakikat masyarakatnya.

Jokowi di Eropa berpikir reflektif. “Kenapa kota-kota di Eropa, kok sangat manusiawi, sangat tinggi kualitasnya baik kualitas penghargaan terhadap ruang gerak masyarakat sampai dengan kualitas terhadap lingkungan” lama ia merenung ini, akhirnya ia menemukan jawabannya “Ruang Kota dibangun dengan Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran”. Tiga cara itulah yang kemudian dikembangkan setelah ia menduduki jabatan di Solo.Setelah sukses di bisnis, Jokowi berpikir “Bagaimana ia bisa berterima kasih pada bangsanya” lalu ia mendapatkan jawabannya, bahwa contoh terbaik untuk berterima kasih adalah menjadi pemimpin rakyat yang bertanggung jawab. Lalu ia masuk ke dalam dunia politik dengan seluruh rasa tanggung jawab.

Pertanggung jawaban politiknya adalah pertanggungjawabtan moral bukan karena ia mencari hidup dalam dunia politik, ia ikhlas dalam bekerja, baginya inilah cara berterima kasih pada bangsanya.Ia masuk ke dalam dunia politik, awalnya tidak dipercaya, karena sosoknya lebih mirip tukang becak alun-alun kidul tinimbang seorang gagah yang hebat, dalam masyarakat kita, sosok dengan ‘bleger’ yang besar lebih diambil hati ketimbang orang dengan sosok kurus, ceking dan tak berwibawa itulah yang dialami Jokowi, tapi beruntung bagi Jokowi, saat itu masyarakat Solo sedang bosan dengan pemimpin lama yang itu itu saja, mereka mencoba sesuatu yang baru.

Akhirnya Jokowi menang tipis.Masyarakat mempercayainya dan ia menjawabnya dengan “Kerja” ia siang malam bekerja untuk kotanya, ia datangi tanpa lelah rakyatnya, ia resmikan gapura-gapura pinggir jalan, ia hadir pada selamatan-selamatan kecil, ia terus diundang bahkan untuk meresmikan pos ronda sebuah RW sekalipun. Ia bekerja dari akarnya sehingga ia mengerti anatomi masyarakat.Suatu hari Jokowi didatangi Kepala Satpol PP. Kepala Satpol itu meminta pistol karena ada perintah pemberian senjata dari Mendagri. Jokowi meradang dan menggebrak meja “Gila apa aku menembaki rakyatku sendiri, memukuli rakyatku sendiri…keluar kamu…!!” kepala Satpol PP itupun dipecat dan diganti dengan seorang perempuan, pesan Jokowi pada kepala Satpol PP perempuan itu “Kerjalan dengan bahasa cinta, kerna itu yang diinginkan setiap orang terhadap dirinya, cinta akan membawa pertanggungjawaban, masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal bagaimana ia mencinta dirinya, lingkungan dan Tuhan. Dari hal-hal inilah Jokowi membangun kota-nya, membangun Solo dengan bahasa cinta….”.

Apakah di Jakarta ia tak bakalan mampu? banyak yang nyinyir bahwa Solo bukan Jakarta. Tapi apa kata Jokowi “Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan”Jokowi berangkat dalam alam paling realistisnya. Kepemimpinan yang realistis, bertanggungjawab dan kredibel. Rasanya tidak berlebihan jika melalui Jokowi-lah dan kita bersama-sama menuju harapan baru, Jakarta baru, Indonesia baru. Indonesia yang terhormat, beradab, dan bermartabat.Semoga bermanfaat.

Sampai Hingga saat ini, Jokowi berhasil memimpin negeri tercinta ini. Yang sosoknya terpajang di tiap-tiap ruang kelas & kantor-kantor di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, menjadi inspirasi bagi tiap-tiap siswa siswi untuk terus belajar, maju & berkembang menjadi sosok pemimpin yang mampu menginspirasi banyak orang dengan kesederhanaannya.


Tuesday, October 17, 2017

Makna & Harapan Perayaan Deepavali 2017 Di YPSIM

Andrio Dev

YPSIM - Sebagai sekolah yang menjunjung tinggi pluralisme, Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda setiap tahun nya memperingati perayaan Deepavali atau yang biasanya disebut Diwali oleh sebagian kalangan masyarakat. Namun tahukah kamu bagaimana sejarahnya perayaan Deepavali menjadi salah satu perayaan paling meriah yang dirayakan oleh umat Hindu & apa makna dari perayaan Deepavali ?

Deepavali sendiri sebenarnya bukanlah perayaan keagamaan, melainkan perayaan budaya. Secara Spiritual, Deepavali merupakan perayaan yang dirayakan untuk menyambut kepulangan Dewa Rama setelah pulang berperang di Alengka untuk menyelamatkan Dewi Shinta. Kemenangan Dewa Rama ini tidak lain merupakan simbol dari kemenangan cahaya umat Hindu atas lenyapnya kebodohan, kegelapan, kejahatan, & keputusasaan. Makna lain dalam kemenangan cahaya ini disebut pelita.

Perayaan Deepavali 2017 yang tepat jatuh pada tahun 5119 Kaliyuga ini disambut baik oleh guru-guru agama hindu dan siswa siswa YPSIM yang ber-etnis tamil, tidak terlepas bagi yang beragama Hindu maupun Buddha. Beberapa kegiatan yang sudah dipersiapkan di YPSIM dalam menyambut perayaan Deepavali antara lain seperti menghias kuil yang di dekorasi langsung oleh siswa-siswi YPSIM. Kemudian mempersiapkan beberapa tarian kolosal yang akan ditampilkan dalam acara perayaan, serta tarian trisaksi, tarian nawakali, dan pemasangan pelita.

Beberapa tokoh penting yang akan hadir dalam perayaan Deepavali di lingkungan YPSIM tahun ini antara lain dr.Sofyan Tan, kemudian beberapa tokoh hindu dari Parisada, serta ketua pembimas Hindu dari kementrian agama Hindu di Sumatera Utara.

Bu Sumitra, selaku guru agama Hindu di YPSIM juga menambahkan beberapa harapan pada perayaan Deepavali di tahun 5119 Kaliyuga ini, diantaranya agar seluruh masyarakat yang merayakan selalu memperoleh berkah, kebetruntungan, kemakmuran yang melimpah di tahun ini.

Monday, September 25, 2017

Phiter & Agung, Sang Juara Musik Kreatif

Andrio Dev

Selamat buat Phiter Samuel (Instagram: @phiter_samuel) dan Agung Daniel (Instagram: @agung_dpt) , siswa SMA YPSIM yang berprestasi di bidang musik pada kompetisi lomba musik kreatif yang diadakan di UNIMED kemarin.

Pada ajang perlombaan musikal kali ini, atas bimbingan langsung dari pak @ariidwan YPSIM mampu meraih juara 3 umum dari puluhan siswa yang mengikuti kompetisi.

Keren & Berprestasi ! ๐Ÿ˜‰๐Ÿ‘
Berikut ceritanya yang ditulis langsung oleh Phter Samuel :



Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar Barang Bekas? Mungkin yang terlintas dipikiran kalian adalah rongsokan yang tidak terpakai lagi. Namun, tidak dengan kedua siswa SMA Sultan Iskandar Muda ini yaitu Agung Daniel dan Phiter Samuel. Mereka adalah siswa yang berhasil meraih juara 3 dari puluhan peserta pada lomba musik kreatif tingkat kota Medan di Universitas Negri Medan dalam rangka festival anak nasional.

Banyak cobaan yang dihadapi mereka sebelum lomba berlangsung. Masalah pertama yang mereka hadapi adalah waktu. Pelatih mereka yaitu pak Ari Ridwan mengetahui lomba diadakan pada hari sabtu 5 agustus tetapi ternyata lombanya diadakan pada kamis tanggal 3 agustus 2017. Hal tersebut yang membuat mereka hanya melakukan latihan selama 3 jam saja,untung dalam waktu yang singkat itu mereka dapat mengoptimalkan latihannya. Masalah kedua yang mereka hadapi adalah latar belakang pengenalan musik mereka yang berbeda.

Phiter awalnya adalah pemusik gereja yang memainkan alat musik keyboard sedangkan agung awalnya hanya sebagai pemain marching band. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pelatih mereka pak Ari Ridwan untuk menyatukan kedua siswa dengan latar belakang pengenalan musik yang berbeda itu. Namun semua itu dapat diatasi mereka dengan baik walaupun mereka hanya
latihan selama 3 jam.

Mungkin banyak yang tidak menyangka kalau mereka berhasil mendapat juara 3. Dari sini kita
dapat mengambil kesimpulan bahwa “ Tidak ada kerja keras yang sia sia “

Terima Kasih
Oleh : Phiter Samuel

Tim Kerja Pembangun

  • Agus RizalJabatan
  • Christin EvalinaJabatan
  • Lando BeninoNetwork Administrator
  • Andrio PrijayaProgrammer
  • HendryVideographer
  • IdrusPhotographer