INFORMASI PENDAFTARAN ONLINE
SISWA/SISWA BARU TAHUN PENGAJARAN 2020-2021

YPSIM Ter-Update



Saturday, July 11, 2020

Transmisi Virus Tak Menunggu Kita Selesai Bicara

ANDRIODEV

Memasuki era kenormalan baru, penggunaan masker di ruang publik menjadi sangat penting untuk mencegah trasmisi virus covid-19. Sayangnya, dewasa ini masih banyak orang yang mengenakan masker tak sesuai protokol kesehatan.

"Banyak yang pakai masker tapi tak sampai menutupi lobang hidung mereka, alasannya karena bikin sesak napas," ujar Felix Harjatanaya di depan ratusan guru Perguruan Sultan Iskandar Muda, di Auditoroum Bung Karno, Sabtu (11/7). Felix Harjatanaya adalah sarjana biochemitry Universitas Birmingham, Inggeris tahun 2016 dan Master of Science Genetics Human Disease, University College London tahun 2018.

Covid-19 Tak Menunggu Orang Selesai Bicara

Tak dipungkiri, kebiasaan mengenakan masker memang merupakan hal baru bagi masyarakat kita. Mereka yang belum terbiasa, kerap mengeluh karena merasa susah bernapas. Tapi demi terhindar dari kemungkinan terkena transmisi virus corana, masker merupakan salah satu alat perlindungan diri di tengah pandemi Covid-19. Tentu disamping kebiasaan cuci tangan bersih dan menjaga jarak saat berada di ruang publik.
"Dokter di rumah sakit saja bisa seharian pakai masker, kenapa kita tidak bisa meniru mereka," ujar Felix. Anggota Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda itu juga mengkritisi perilaku orang yang kerap menurunkan masker saat sedang berbicara. Alasan mereka supaya suara mereka terdengar jelas. Usai bicara, masker lalu ditarik kembali menutupi hidung.

Masalahnya menurut Felix, bisa saja saat masker kembali ditarik untuk menutupi hidung, virus corona 19 sudah menempel di masker. "Transmisi virus itu tak menunggu kita selesai bicara," katanya.

Arti Penting Mengenakan Masker

Felix karena itu mengingatkan pentingnya guru-guru di Perguruan Sultan Iskandar Muda mengenakan masker secara benar. Terlebih menurut Felix, penelitian terbaru di dunia kedokteran yang telah dikonfirmasi WHO, menyebutkan bahwa virus corona-19 bisa bertahan hidup di udara.
Arti penting mengenakan masker menurutnya juga karena 18% penderita Covid-19 adalah orang tanpa gejala (OTG). Dan orang yang positif covid -19 tanpa gejala (OTG), bisa mengalami perubahan dan kerusakan sel-sel paru-paru, yang juga berpotensi menjadi permanen.

"Mengenakan masker secara benar juga upaya untuk melindungi diri dan orang lain disamping membantu pemerintah menanggulangi transmisi Covid-18," ujar Felix. Ia juga menyebut bahwa masyarakat di negara yang memiliki budaya mengenakan masker seperti Taiwan, Jepang dan Korea Selatan aktivitas ekonomi dan sosial mereka cepat kembali pulih.
"Karena itu jangan pakai masker setengah-setengah," katanya. (JA)

Monday, July 6, 2020

Rubik Inspirasi - Ia yang Mendapat Nyala Api

ANDRIODEV


Sekitar 2 tahun setelah mendirikan Taman Siswa pada 2 Juli 1922, Raden Mas Soerjadi Soerjaningrat menanggalkan gelar kebangsawanannya. Nukilan film dokumenter yang memerlihatkan Soewardi tengah berpidato dalam Program Melawan Lupa, Metro TV edisi 6 Mei 2017, menjelaskan alasannya:

"Kita menghilangken titelatur. Semua orang yang masuk ke dalem Taman Siswa, hilang titelnya.  Raden Mas,  Raden Ayu, Raden Ajeng yang masuk dalem Taman Siswa dengen titel Ki, kalau laki-laki, Nyi kalau perempuan yang sudah bersuami, dan Ni kalau perempuan yang belum bersuami. Dengan begitu semua lalu kita sama. Dalam Taman Siswa tidak ada perbedaan dengan yang lain di dalem tingkatan titelatur."

Dengan menanggalkan gelar kebangsawanan itu, relasi sosial yang semula tak setara, yang sejak muda sudah disadari Soewardi dan diperjuangkannya lewat Indische Partij bersama Tjipto Mangunkusumo dan E.E.E, Douwes Dekker yang lalu berganti nama menjadi Danudirja Setiabudi, lalu jadi egaliter.

Lalu saat berumur 40 tahun, Soewardi mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Menurut Savitri Scherer, seperti dikutip Prof. Dr. Nina Herlina, M.S. dalam tulisannya Tiga Serangkai Dalam Pergerakan Nasional, dalam buku Ki Hajar Dewantara, Pemikiran dan Perjuangannya, pergantian nama itu merupakan penegasan sebuah status sosialnya. Soewardi merupakan priyayi aristokrat karena statusnya sebagai cucu Paku Alam III. Namun status sosialnya yang begitu tinggi, ia tinggalkan akibat intrik di dalam kraton. Melalui pendidikan, status sosialnya itu "dikembalikan" sebagaimana implisit dari nama barunya Ki Hajar Dewantara yang memiliki makna "seorang terhormat (Ki) yang mengajar (Hajar) sebagai wakil/perantara dewa (Dewantara)."

 

Menyulut Nyala Api

Dalam perspektif kepemimpinan,  Ahmad Yuniarto,  menyebut apa yang terjadi pada Soewardi muncul akibat pencerahan yang ia terima dari berbagai pendidikan di sekolah yang diikutinya.

"Pendidikan yang ia, terima meski pendidikan model Eropa, telah membangun kesadaran kritis terhadap lingkungannya," katanya. Saaat di sekolah ia mendapat pelajaran tentang nilai-nilai kesetaraan, ia melihat ternyata hanya kaumnya saja yang bisa bersekolah. Ia juga melihat ada perlakuan berbeda terhada dirinya sebagai bangsa terjajah.

Semua itu membangun sebuah kesadaran baru. Nyala api pencerahan itu memuncak saat pemerintah Hindia Belanda hendak membuat perayaan 100 tahun kemerdekan Nederland di seluruh tanah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda. Perayaan hendak dibuat secara besar-besaran. Biayanya sebagian dibebankan  dari hasil kutipan penduduk.

 Merasa ada ketidakadilan, ia lalu menulis pamflet Als ik een Nederlander was atau Seandainya Aku Seorang Belanda, yang ditulis dalam bahasa Belanda dan Melayu. Isi tulisan tersebut dianggap menghasut kebencian terhadap pemerintah kolonial Belanda. Akibatnya, bersama Tjipto Mangunkusomo dan Douwes Dekker, trio pendiri Indische Partij ini dihukum sebagai orang buangan di Negeri Belanda.

Menurut Yuniarto, di negeri Belanda,  Soewardi justru makin banyak mendapat pengetahuaan baru tentang pendidikan. Soewardi sangat terpengaruh metode pendidikan Montessori berdasar pada teori perkembangan anak, dan sekolah alam Rabrindanath Tagore dengan gagasan mengembalikan anak-anak pada akar budaya  dan jati diri kemanusiaannya.

Bagi Yuniarto, Soewardi bukan sekadar seorang survivor, tapi juga seorang resilien. Sebagai orang buangan,  ia tak hanya mampu menanggung beban berat hidup bersama isteri dan anaknya yang masih kecil. Tapi juga sekaligus mendapat pengetahuan-pengetahuan baru untuk memajukan bangsanya lewat pendidikan yang kelak menjadi media perjuangannya sepulang kembali ke tanah air.

Belajar dari Ki Hajar Dewantara, Yuniarto berharap sebagai pemimpin di lingkungan sekolah, guru dapat menggeser cara pandang dalam mengelola pandemi sebagai krisis sementara, menjadi mengelola transisi agar siswa  mendapat pegangan sementara agar orang tidak bingung, atau hilang arah.

 

Membangun Kemampuan Resiliensi

Dalam masa pandemi, guru menurutnya harus berperan untuk membentuk masa depan anak. Tujuannya bukan agar anak survive dari krisis atau tidak jadi korban pandemi. Soalnya survive saja  belum tentu  menjamin anak punya kemampuan baru untuk bangkit kelak  pasca krisis.

"Yang perlu dibangun adalah kemampuan resiliensi," katanya. Resiliensi adalah kemampuan anak menangapi disrupsi yang tak direncanakan, mampu menghadapi gangguan atau stress besar. Seorang resilien merupakan orang yang mampu menanggung kesulitan, mencari hal-hal baru  dan  jalan keluar  baru. Menjadi resilien butuh pola pikir  positi yang melihat gangguan dan kesulitan sebagai sarana memperbaiki diri.

"Namun setelah belajar dari hal-hal baru, seorang resilien juga harus berani membuang hal-hal lama yang tidak lagi sesuai dengan situasi baru," katanya.

Proses menjadi resilien menurut Yuniarto dimulai dari kemampuan menanggapi krisis,  berani bereksperimen karena belum  ada solusi pasti. Eksperimen harus terus-menerus dilakukan sampai berhasil.

"Kita juga harus mampu memanfaatkan kecerdasan kelompok atau mendapatkan ide dari luar kelompok," katanya. Kolaborasi dengan orang lain menjadi kunci enting. Hal itu berangkat dari realita, masalah yang dihadapi memang sangat besar. Dan tak seorang pun mampu menyelesaikan sendiri. (J Anto)


Rubik Inspirasi - Guru Sang Pematik Api

ANDRIODEV


Peran guru bukan sekadar melakukan transmisi pengetahuan. Guru harus memantik api anak agar membuat hangat dan memanaskan semangat atau mimpi besar mereka sekaligus  menjadi manusia pembelajar. Prinsip pendidikan Ki Hajar Dewantara, Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani, adalah alat tepat untuk mewujudkannya.

"Adolf murid yang rajin, kalau ulangan tak pernah curang, hampir tak pernah mangkir dari sekolah, dan di rapornya selalu berderet huruf A. Dia senang menggambar, tak banyak bicara, tak pernah bikin ulah. Satu-satunya keluhan para guru: si Adolf ini kurang total menyimak pelajaran. Menurut mereka, dia terlalu berbakat jadi pelamun atau pemimpi. Hampir semua khawatir kalau-kalau kelak Adolf jadi penyair. Orang-orang bernapas lega  ketika tahun demi tahun, Adolf ternyata ingin jadi tentara."

Namun di kemudian hari, dunia ternganga saat tahu Adolf menganggap dirinya dewa. Ia menjelma jadi sang fuhrer yang membantai jutaan orang lewat mesin perangnya, tentara Nazi. Ya, Adolf yang kalau ulangan tak pernah menyontek, Adolf yang pendiam dan pemimpi itu tak lain adalah Adolf Hitler. 

Kutipan dariesai panjang Omi Intan Naomi sebagai Pengantar buku yang disuntingnya,  Mengugat Pendidikan, Fundamentalis, Konservatif, Liberal, Anarkis (1999), mengingatkan kita  pentingnya arah pendidikan. Atau kalau mau disempitkan, arti penting peran  guru dalam interaksi sosial dengan anak (baca: siswa).

Sebuah pengalaman menarik diungkapkan Ketua Yayasan Biru Peduli, Ahmad Yuniarto, dalam seminar virtual memeringati Hari Kebangkitan Nasional yang dimoderatori kandidat Doctor of Philisophy in Education, Oxford University, Tracey Yani Harjatanaya, Mei lalu. Seminar diikuti 100 guru dari Medan Deli Serdang dan Labuhan Batu, dibuka anggota Komisi X DPR RI, dr. Sofyan Tan. Topiknya: Mengembangkan Kepemimpinan Guru.

Ahmad Yuniarto, yang pernah menjabat CEO Schlumberger Indonesia, salah satu perusahaan minyak dan gas terbesar di dunia yang berpusat di Houston, Amerika Serikat, menyebut bukan mata pelajaran guru yang diingatnya. Lalu apa?

Sentuhan kasih sayang  mereka, katanya. Ia lalu menyebut salah seorang gurunya saat masih di SD. Namanya ibu Bariah. Di sekolah, ibu Bariah sering mengajaknya ngobrol-ngobrol di luar jam pelajaran. Topik yang diobrolkan remeh temeh. Kadang ia hanya sekadar menyapa. Kebiasaan seperti itu juga dilakukan terhadap anak lain.  

"Karena Ibu Bariah misalnya, bagi saya, juga murid-murid lain, sudah seperti ibu kami saat di sekolah," tuturnya. Setelah dewasa, Ahmad Yuniarto memahami bahwa  apa yang dilakukan dulu oleh gurunya ikut membentuk caranya melihat diri sendiri dan melihat dunia di luar dirinya.

"Hal itu memerlihatkan  betapa kuatnya  pengaruh guru karena mereka punya waktu cukup banyak berinteraksi dengan anak," katanya. Guru menurutnya bukan seperti ember yang penuh  berisi air pengetahuan yang siap disiramkan ke anak.

 

Pemantik Api

Mengutip pujanga Irlandia, yang pada tahun 1923 meraih hadiah Nobel Sastra, William B. Yates, guru adalah penyulut atau pemantik api yang sudah ada dalam diri anak.

"Api  itu tinggal disulut agar menghangatkan dan memanaskan semangat dan cita-cita anak, menumbuhkan mimpi besar agar mereka  makin maju dan menjadi pembelajar  seumur hidup," ujarnya.

Menurut Yuniarto, peran sebagai pemantik api, sejatinya dipinjam dari konsep kepemimpinan. Jika dikaitkan dengan peran guru dalam proses pembelajaran di sekolah, maka sebagai pemantik api, guru bukan sekadar bertanggungjawab melakukan transfer of knowledge, tapi  menjadi  pemimpin yang menumbuhkan pemimpin-pemimpin baru. Untuk itu, api yang disulut guru, bukan sekadar api kepintaran, tapi api kematangan jiwa pada pemimpin-pemimpin muda yang akan terus bertumbuh.

Merujuk konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yang sangat populer, yakni Patrap Triloka: Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani, kepemimpinan guru lebih dilihat sebagai interaksi sosial di sekolah. Jadi dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin, guru sebenarnya lebih menjalankan fungsi silaturahmi.

Membangun tali silaturahmi bisa dijalankan lewat tegur sapa, bertanya,  besedia mendengarkan, menghargai, memuji, membantu, melayani, memahami, menolong, memerhatikan, mengingatkan, bercakap-cakap, peduli dan  menyemangati anak.

 

Berbasis Relasi Sosial Bukan Hirarki

"Kepemimpinan itu guru berbasis relasi sosial, bukan berdasarkan hirarki," katanya. Tak ada atasan - bawahan. Tiap anak punya bakat kepemimpinan. Tugas guru untuk memantik atau menumbuhkan jiwa kepemimpinan anak. Konsekuensi dari konsep kepemimpinan Ki Hajar Dewantara itu menjadikan pemimpin suatu saat bisa berposisi sebagai pemimpin, namun  suatu saat bisa menjadi pendengar/pengikut (anak).

Selama prinsip Ing ngarso sung tuladha menurut Chairman Save the Children itu, dipahami terlalu sempit oleh guru.  Ia memberi ilustrasi saat anaknya yang berusia 3 tahun melakukan mogok sekolah. Gara-gara si anak mendapat hukuman dari guru. Sementara  anaknya mengaku tak berbuat salah. Ia lalu memediasi dengan pihak sekolah. Mempertemukan anaknya dengan guru dan kepala sekolah. Singkat  cerita, di ruang pertemuan guru dan anaknya saling berpelukan, pertanda masalah selesai. Tapi esok hari, puterinya tetap tak mau masuk sekolah.

"Lo, kenapa? Kemarin kan sudah saling peluk-pelukan dengan gurumu?"

"Iya pa, tapi guru saya tak pernah minta maaf."

Menurut Yurianto, betapa besar dampak terhadap anak jika guru berbuat salah dan tidak mau meminta maaf kepada anak. Masalahnya, tak semua anak dapat  mengekspresikan sikap mereka seperti dilakukan anaknya.

Menurut Yuniarto, meminta maaf dengan tulus kepada anak  saat guru memang berbuat salah adalah penerjemahan dari prinsip Ing ngarso sang tulodho.

“Meminta maaf juga memerlihatkan komitmen sekaligus konsistensi guru yang akan menumbuhkan respek anak. Hal ini juga sekaligus menunjukan konsistensi kualitas kepemimpinan seorang guru,”ujar pemilik nama lengkap Ahmad Surbakah Yuniarto, yang juga alumni program studi Teknik Elektro tahun 1991 Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta itu. 

Kata tuladha, yang kerap diterjemahkan sebagai  memberi keteladanan, menurutnya harus ditafsirkan secara luas, yakni memberi arah yang mengembangkan, yang memantik api dan memberi inspirasi, bukan instruksi. Keteladanan juga bisa diwujudkan guru lewat tindakan  menyiapkan materi pelajaran dengan baik. Datang ke sekolah jauh sebelum waktu pelajaran dimulai, sehingga guru punya waktu membuat persiapan mengajar. Guru mau bertanggungjwab dan mempertanggungjawabkan kualitas hasil  pengajarannya.

"Bagi saya Ing ngarso sang tuiladha itu  giving inspiration, vision, sense of direction terhadap semua yang ada di sekeliling guru," katanya.  Menggunakan istilah Daniel Goleman, prinsip Ki Hajar Dewantara ini mengajak guru untuk jadi pemimpin  visioner. Pemimpin yang melihat jauh ke depan. Pemimpin yang mampu memaknai sesuatu dari cara berbeda, bahkan bisa melihat sesuatu dibalik sebuah kesulitan.

 

Ing Madya Mangun Karsa

Prinsip kepemimpinan kedua dari Ki Hajar Dewantara adalah Ing madya mangun karsa. Membangun karsa adalah membangun niat, membangun kemampuan meta kognisi atau kemampun kritis terhadap pemikirannya sendiri atau berani melakukan otokritik.

Menumbuhkan kemampuan meta kognisi anak di masa depan, menurut Yurianto, dsangat penting. Masa depan anak-anak yang akan menjadi pemimpin, menurutnya akan mengelola hal-hal yang seolah-olah saling bertentangan. Mereka akan berhadapan dengan orang-orang dari beragam latar belakang ras, etnis, budaya, bahasa, kebiasaan dsb.

Anak yang memiliki kuat  meta kognisinya, menurutnya akan mudah mengelola kompleksitas masalah yang ada di sekitarnya. Mereka lebih mudah menyesuaikan diri saat berada di tempat yang baru karena memiliki kecerdasan budaya. Kemampuan meta kognisi juga membuat mereka memiliki  make sense. Artinya anak mudah  memahami atau  mengenali atau menginterpretasi data-data yang terlihat acak.

Sedangkan prinsip kepemimpinan Tut wuri handayani, lebih merupakan upaya guru memberikan tenaga, daya, kuasa kepada anak agar  mereka bisa menyelesaikan segala sesuatu ysng menjadi tugasnya.

“Sasarannya adalah otonomi anak. Anak yang  memutuskan, mengambil tindakan, berani menerima resiko dan mengakui salah, jika memang melakukan kesalahan,” katanya.

 

Mengubah Akhir Cerita Anak

Menerapkan filosofi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara, menurut Yuniarto menuntut sarat 3 K. K pertama koneksi, di sini guru dintutut untuk mampu membangun kedekatan emosi, bertindak welas asih, peduli dan respek kepada anak. Kedua klarifikasi atau kejelasan. Artinya guru harus bisa menjelaskan secara tulus  segala hal sehingga dipercaya anak. Ketiga adalah komitmen, artinya guru harus mampu memberdayakan dan mau mempertanggungjawabkan hasilnya.

"Satu hal lagi yang penting, guru juga dituntut kemampuan menggunakan teknik story telling dalam menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan di sekolah," katanya. Story telling  adalah komunikasi dengan model bertutur. Biasanya lewat cerita personal guru. Menurut Yuniarto, guru tak bisa mengubah masa lalu mereka. Tapi guru punya kesempatan mengubah akhir ceritanya,  dan memiliki  kesempatan membantu anak  mengubah akhir cerita mereka sebagai calon-calon pemimpin-pemimpin baru.


Tim Kerja Pembangun

  • Edi Jitro SihombingPimpinan Sekolah
  • Agus RizalPembina Multikultural
  • Lando BeninoNetwork Administrator
  • Andrio PrijayaProgrammer
  • M. Awal Imam MulqanGraphic Designer
  • IdrusPhotographer