Kemiskinan Bisa Diubah Lewat Pendidikan

 

Jadi orang miskin itu memang tidak enak. Tak jarang kita sering dihina, dicurigai sebagai pelaku kejahatan, bahkan saat bertandang ke rumah saudara yang lebih kaya, disangka mau pinjam uang. Tapi kemiskinan tidak perlu ditangisi. Kemiskinan itu bisa diubah dan cara mengubahnya adalah lewat pendidikan.

"Orang boleh miskin materi, tapi jangan sampai otaknya juga miskin."

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), Medan Sunggal, dr. Sofyan Tan saat memberi bimbingan terhadap 153 siswa Program Anak Asuh tahun ajaran 2022/ 2023 yang datang bersama orang tua mereka di Auditorium Bung Karno, YPSIM, Rabu (27/7). Bimbingan diberikan sebelum acara penandatanganan kontrak sebagai Anak Asuh YPSIM. Acara itu dihadiri Ketua YP-SIM. Finche Kosmanto, SE, Psi, Koordinator Sekolah, Edy Jitro Sihombing, MPd, Koordinator Program Anak Asuh, Ir. Sahayu Surbakti dan para kepala sekolah.

Sofyan Tan mengatakan, pada tahun ajaran 2022. Program Anak Asuh YPSIM telah meluluskan sebanyak 63 siswa SMA dan SMK. Dari 63 lulusan, sebanyak 21 siswa atau 33 persen diterima di PTN lewat jalur undangan (SNMPTN), sisanya diterima di sejumlah PTS Medan. Tiga orang dari 21 siswa anak asuh diterima di Fakultas Kedokteran Unsyiah Lhokseumawe dan USU Medan.

Bisa ubah hidup

"Satu orang lagi yang jadi anak asuh sejak kelas 3 SD diterima di Fakultas Kimia UGM Yogyakarta dan bahkan sebelum lulus telah diikat kontrak kerja boleh sebuah perusahaan besar," ujar Sofyan Tan.

Menurut anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan itu, data-data itu memperlihatkan bahwa meski miskin, namun jika otaknya ka ya ilmu pengetahuan, maka mereka kelak bisa mengubah nasib mereka.

"Presiden Joko Widodo itu dulunya seorang pedagang mebel, orang biasa, tapi beliau juga bisa jadi Presiden." katanya. Menurut Sofyan Tan, kunci keberhasilan anak asuh untuk mewujudkan mimpi meraih kesuksesan, entah sebagai kepala desa, lurah, camat, bupati, menteri, dokter, insinyur dsb., adalah kerja keras. Sebagai siswa, anak asuh harus rajin belajar.

"Proses perjuangan itu juga panjang dan terkadang menyakitkan," katanya. la memberi contoh dirinya. Sejak kecil ia bercita-cita ingin jadi dokter. Padahal ayahnya hanya seorang tukang jahit kampung. Tapi karena otaknya tergolong encer, Sofyan Tan bersikeras untuk dikuliahkan di fakultas Kedokteran. la tak mau kuliah di fakultas ekonomi seperti harapan ayahnya.

Di tengah perkuliahan, ayahnya meninggal dunia. Sofyan Tan harus bekerja keras membiayai kuliahnya. la nyambi sebagai guru, memberi beberapa les privat, mengajari teman-teman seangkatannya saat mengikuti ujian negara untuk kesarjanaan mereka hingga menawarkan asuransi. 

Diskriminasi dibalas dengan kasih sayang

Pengalaman menyakitkan dialami saat ia gagal ujian mata kuliah mata sebanyak 5 kali gegara mengalami perlakuan diskriminasi dari dosen pengujinya yang tak suka dengan etnis Tionghoa. Namun setelah lulus dan sempat menjalani praktik sebagai dokter, Sofyan Tan memutuskan untuk secara total mengelola sekolah yang didirikannya pada tahun 1987 dan menghentikan praktik dokternya.

Semua itu hasil kontemplasi hidupnya. Ia tak ingin anak-anak miskin seperti dirinya mengalami perlakuan tidak mengenakan.

Sejak 1990, ia menjaring anak-anak miskin lewat Program Anak Asuh. Jika awalnya anak asuhnya berjumlah 17 orang, kini selama kurang lebih 35 tahun telah berjumlah 5.813 orang. Sofyan Tan tak membalas perlakuan diskriminatif dan kebencian rasial dengan melakukan hal yang sama.

"Kebencian, dendam, sakit hati, harus dibalas dengan cinta dan kasih sayang," katanya.

Pada tahun ajaran 2022, jumlah anak asuhnya bertambah lagi sebanyak 153 orang. Mereka tersebar di unit SDSMA/SMK. Tak kurang dari Rp3 miliar per tahun biaya sekolah mereka harus disubsidi yayasan agar dapat menikmati pendidikan secara gratis di YP SIM. Mereka juga memiliki peluang besar untuk melanjutkan pendidikan kesarjanaannya sesuai jurusan yang diminati. Para anak asuhnya, diseleksi secara ketat lewat observasi, wawancara dan tes tertulis. Ia tak membedakan etnis, suku, agama dan aliran kepercayaan yang dianut, yang penting mereka miskin, punya potensi kecerdasan, rajin belajar dan punya motivasi untuk maju.

"Dan juga tidak melakukan diskriminasi. Begitu ketahuan melakukan diskriminasi, kita keluarkan," katanya.






Post a Comment

Bagaimana tanggapanmu ?.. yuk tulis disini...

Copyright © :: YPSIM ::.
Designed by ODDTHEMES Shared By Way Templates