Mereka Tengah Meniti dan Menata Asa

 

Putri dan ibunya
Dua kali ditimpa bencana alam, namun hingga saat ini, Erlina Yusni (42),  masih bisa menghirup udara segar. "Tuhan masih sayang sama saya," ujar orangtua tunggal dari Puteri Rejeki Utama (16) dan Wahyudi itu.

Bencana pertama terjadi pada 2004, saat gempa bumi dan tsunami menerjang Aceh dan Nias. Yusni dan suaminya, juga kedua orangtuanya, tinggal di Banda Aceh. Sehari-hari pasangan suami isteri itu berdagang mie sop dan bakso. Tsunami menjadi mimpi buruk bagi pasangan muda itu. Saat itu Yusni tengah mengandung anak kedua. Ia dan putranya, Wahyudi selamat dari tsunami. Tetapi suami, dan ayah Yusni, tersapu gelombang tsunami bersama lain. Hingga sekarang, jenazah merek tak pernah ditemukan.

Karena rumah dan seluruh harta benda ludes disapu tsunami, dibantu seorang pendeta, Yusni dan anaknya, pindah ke Medan. Sedang ibunya memilih ke Jakarta, tinggal dengan salah seorang adik Yusni. Di Medan, Yusni tinggal di sebuah rumah kontrakan di Perumahan Flamboyan, Kecamatan Tanjung Selamat, Medan Tuntungan, hingga lahir anak kedua, yang diberi nama Putri  Rezeki Utama.

 

1,5 Jam Terseret Arus Sungai

Di Medan, Yusni  berjualan sarapan pagi. Saat kehidupan ekonomi mulai kembali tertata, pukul 24.00 WIB pada awal Desember 2020, banjir bandang menyapu perumahan Flamboyan. Air bah menggenangi rumah 341 KK hingga ketinggian 2 meter. Sejumlah warga perumahan terseret air bah dan terbawa arus air sungai Belawan tidak jauh dari perumahan, salah satunya Yusni. Ia terseret arus air bah hingga sampai ke Pantai Bokek. Sekitar 1,5 jam, ia harus berjuang dan bertahan melawan hawa dingin air sungai dengan berpegangan pada sebatang kayu sawit dan botol aqua. Ia menggigil, kegelapan dan sendirian. Tapi semangat Yusni untuk bertahan hidup tak surut . Ia terus berteriak minta tolong.

Ia juga terus menerus memanggil-manggil nama Tuhan, meminta pertolongan Sang Pencipta. Air sungai sudah tak terkira berapa liter masuk ke perutnya.

"Akhirnya saya benar-benar selamat karena ditemukan tim SAR," tutur Yusni didampingi Putri Rezeki Utama. Ibu dan anak itu ditemui di depan Mesjid Al Syarifah,  di kompleks Sekolah Sultan Iskandar Muda, Kamis (15/10), usai mengikuti kegiatan penandatanganan perjanjian sebagaii siswa Program Anak Asuh di Sekolah Sultan Iskandar Muda, Medan Sunggal.

Pada tahun ajaran 2020/2021, Sekolah Sultan Iskandar Muda menerima sebanyak 164 anak asuh baru mulai jenjang SD, SMP, SMA dan SMK dari 313 jumlah peserta yang mendaftar dan mengikuti seleksi. Acara dihadiri Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, dr. Sofyan Tan, anggota Dewan Pembina, Felix Iskandar Harjatanaya, B.Sc (hons), M.Sc, Ketua yayasan, Finche Kosmanto, SE, M.Psi, dan Pimpinan Sekolah,  Edy Jitro Sihombing, M.Pd dan para kepala sekolah.

 

Bersyukur Bisa Diterima Sebagai Anak Asuh

"Saya sangat bersyukur Putri bisa diterima  sebagai siswa Program Anak Asuh di Sekolah Sultan Iskandar Muda. Terimakasih Pak Sofyan," ujar Yusni.  Setelah banjir bandang, Yusni kini memang tengah mulai menata kembali hidupnya. Untuk menopang kehidupan ekonomi sehari-hari bagi kedua anaknya, ia membuat kue risol dan aneka bolu. Kue itu ditititipkan  ke  sejumlah kedai di sekitar rumah kontrakkan barunya di Gang Delima. Biaya kontrak rumahnya,  dibantu seorang karyawan DAAI TV. Selain bejualan kue, Yusni juga mendapat menjadi tukang cuci dan setrika baju di dua rumah tangga. .

"Bayarnya secara harian, kalau dapat Rp 50.000, langsung saya belikan beras 3 kg," tutur Yusni yang belum lama sempat mendapat serangan stroke ringan karena hipertensi dan gula.

Putri, yang semasa SMP memiliki rangking 1-3, membantu dengan memberi les privat untuk 2 anak SD. Seminggu ia bisa mendapat honor Rp 50.000. Uang itu digunakan untuk keperluannya sebagai remaja Puteri, sebagian ditabung. Sehari-hari Puteri juga ikut membantu ibunya membuat kue. Juga mengantar dan mengambil uang kue dari kedai yang dititipi.

Saat dotanya cita-citanya, lugas Putri menjawab: "Saya ingun jadi dokter, biar bisa mmenolong orang sakang kelak." 

Sedang Wahyudi, abang Putri, menurut Yusni bercita-cita ingin jadi polisi. Sayang ijazah SMA Wahyudi hilang terseret air banjir. Yusni sendiri srbenarnya ingin anak laki-lakinya bisa kuliah, jadi sarjana, baru cari pekerjaan.

"Memang mamak punya biaya untuk kuliah saya?"

Jika ditanya begini, Yusni terdiam. Ibarat pencatur terkena skakmat. Namun ia masih tetap menyimpan asa bahwa putranya suatu saat bisa berkuliah. Dari Koordinator Program Anak Asuh, Sahayu Surbakti, selintas ia pernah mendengar bahwa dr. Sofyan Tan memiliki program beasiswa. Ia ingin tahun 2022 putranya ikut mendaftar proses seleksi masuk PTN atau PTS, meski  ia masih dipusingkan  dengan ijazah SMA putranya yang hilang tak berbekas gegara banjir bandang itu. Begitilah cara Yusni, orangtua tunggal dalam meniti dan mernata asa untuk kehidupan anak-anaknya. (Ja).

Post a Comment

Bagaimana tanggapanmu ?.. yuk tulis disini...

Copyright © :: YPSIM ::.
Designed by ODDTHEMES Shared By Way Templates