Merdeka Belajar Kebinekaan

Mengupload: 4531475 dari 4531475 byte diupload.


“Pelatih saya itu keturunan Tionghoa tulen asal Solo, pasangan di lapangan saya keturunan Papua dan Blitar, saya orang Minahasa ada keturunan Tionghoanya sedikit. Kalau bukan Indonesia yang mempersatukan, kami tak pernah bisa bersatu dan meraih medali emas di Olimpiade Tokyo 2021.

Bangga menjadi orang Indonesia.” Pernyataan itu terdapat di dinding akun media soaial milik Greysia Polii. Berpasangan dengan Apriyani Rahayu, pada 9 Agustus 2021 lalu, pasangan ganda putri bulutangkis itu meraih medali emas pada ajang Olimpiada 2021 di Tokyo, Jepang. “Merinding saya membaca status Greysia Polii di akun facebook miliknya itu. Inilah karya terbaik bangsa yang mampu membangkitkan rasa nasionalisme kita, tidak lagi ada blok kiri, kanan, atas, bawah saat menyaksikan kemenangan Greysia dan Apriyani meraih medali emas,” ujar anggota Komisi X DPR RI, dr Sofyan Tan saat menjadi narasumber webiner Merawat Kebinekaan di Sekolah Lewat Survei Lingkungan Belajar, Kamis (5/8). Menurut Sofyan Tan, dalam situsi Pandemi Covid-19, seharusnya seluruh elemen masyarakat, terutama para ilmuwan, juga terpanggil untuk bersatu dan bekerjasama seperti dilakukan Greysia dan Apriyani.

Mereka harus mendahulukan rasa nasionalisme mereka untuk mencari solusi agar penularan virus corona bisa segera melandai. “Perbedaa harus disyukuri dan harus jadi modal sosial untuk membangun negara ini,” ujarnya. Pendapat anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan itu benar. Sebagai negara kepulauan yang dikelilingi tiga lautan besar, Laut China Selatan, Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik, kebudayaan yang berkembang di masyarakat Indonesia, dulu disebut Nusantara, adalah produk kebudayaan hibrid. Artinya, sedikit atau banyak, corak kebudayaan masyarakat lokal, telah dipengaruhi oleh budaya yang dibawa para pedagang yang selama berabad-abad telah datang ke berbagai pulau mencari rempahrempah. Sebagian dari para pedagang itu bahkan menetap dan kawin dengan penduduk lokal. Saling pengaruh budaya pun tak tak terelakkan.

Nusantara, karena itu sejak dulu, adalah tempat terjadinya silang budaya dari berbagai corak budaya yang ada. Realita kebinekaan adalah hal yang tak mungkin bisa dinafikkan. Webiner Merawat Kebinekaan Lewat Survei Lingkungan Belajar karena itu punya arti penting. Terlebih salah satu tujuannya ingin memotret indikator yang digunskan dakam survei untuk mendapatkan potret iklim kebinekaan di sekolahsekolah dibtanah air. Kegiatan itu diadakan Litbang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), diikuti ratusan peserta. Narasumber lain dalam kegiatan itu adalah Kepala Balitbang dan Perbukuan Kemendikbudristek, Anindito Aditomo dan Direktur Eksekutif Wahid Foundation, Mujtaba Hamdi.

Filosofi Pohon

Menurut Sofyan Tan ada ragam cara untuk menumbuhkan iklim kebinekaan di sekolah. Guru menurutnya harus menjadi role model bagi siswa. Guru tak boleh pilih kasih, apalagi diskriminatif. Guru juga dituntut kreatif memaanfatkan media belajar yang ada di sekolah untuk mengajarkan nilai kebinekaan. Ia memberi contoh keberadaan pohon yang ada di setiap sekolah. Dalam ilmu biologi, tumbuhan tergolong sebagai kasta terendah sebagai mahluk hidup.

Mahluk hidup tertinggi adalah manusia disusul binatang. “Tapi dari pohon, kita justru bisa belajar filosofi kebinekaan,” katanya yang lalu memberi contoh pohon asam jawa. Meski namanya asam jawa, namun pohon itu ditanam orang Melayu atau Batak, atau dari suku lain. Saat mulai berbuah, asam jawa bisa dimanfaatkan siapa saja, meski yang menanam orang Melayu atau Batak. Oksigen yang diproduksi pohon asam jawa, juga bisa dihirup siapa saja yang berada di dekat pohon itu. Bagi Sofyan Tan, menumbuhkan nilainilai kebinekaan juga harus dilakukan lewat kegiatan kongkrit. Bukan lewat kegiatan artifisial seperti parade busana nusantara. “Kegiatan yang membangun kesadaran siswa tentang arti penting menghargai kebinekaan,” katanya sembari mencontohkan yang dilakukan di sekolahnya, di Medan.

Di sekolah itu terdapat fasilitas 4 rumah ibadah, mesjid, gereja, vihara, dan pura. Rumah ibadah itu dibangun saling berdekatan. Tak ada pagar pembatas sehingga siswa leluasa melihat aktivitas ibadah pada masing-masing rumah ibadah. Lewat keberadaan rumah-rumah ibadah itu, siswa dibiasakan melihat praktik ibadah dari masing-masing siswa yang berbeda agama. “Siswa nonmuslim, lalu jadi tahu bahwa temannya yang muslim sebelum sembahyang harus melakukan wudu dulu, setelah wudu mereka tak boleh saling berjabat tangan. Sebaliknya siswa muslim jadi tahu bahwa setiap hari pertama dan ke-15, temannya yang Buddha sembahyang di vihara,” katanya. Namun ia tak anti denga kegiatan karnaval budaya. “Bolehlah sekali-kali, semisal saat acara perayaan HUT Kemerdekaan RI,” katanya.

Mengisi Ruang Batin Siswa

Tentang iklim kebinekaan di sekolah, Direktur Eksekutif Wahid Institut Jakarta, Mujtaba Hamdi, punya data cukup menarik. Pada 2018, Wahid Institute pernah melakukan survei di kalangan pelajar SMA. Khususnya mereka yang bergabung dengan ekskul agama. Hasilnya cukup memprihatinkan. Ia menyebut 70 persen siswa setuju jika mereka tidak boleh memberi ucapan selamat hari raya agama terhadap siswa yang tidak seagama. Sebanyak 64,25 persen juga setuju bahwa dalam memilih pemimpin harus yang seagama. Meski masih dalam tataran pikiran, belum menjadi sikap, bagi Wahid Institute, hasil survei itu ibarat puncak gunung es. “Artinya ada pemikiran yang berhasil masuk dalam ruang kebatinan siswa, pikiran dan emosi siswa bahwa hubungan dengan mereka yang berbeda agama, ada batas-batas yang begitu ketat,” katanya.

Menurut Mujtaba Hamdi, semua itu bukan berasal dari sebuah ruang kosong atau proses tiba-tiba. Ia lalu menyebut pengaruh lingkungan digital yang telah menggerus nilai-nilai kebinekaan dan menyuburkan nilai intoleransi. Sayangnya pengaruh lingkungan digital yang menyebarkan ajaran-ajaran intoleransi itu sempat kurang dipedulikan. “Akibatnya kita baru terkaget-kaget saat membaca koran kasus seorang siswa yang terpilih sebagai Ketua OSIS, diprotes karena agamanya berbeda dengan agama mayoritas yang dianut siswa di sekolah,” katanya. Ia menekankan pentingnya lingkungan belajar kebinekaan dalam membentuk ruang batin siswa karena cara berpikir dan bersikap siswa, muaranya akan menentukan cara masyarakat berinteraksi satu sama lain.

Wahid Institute sendiri telah menginisiasi penyelenggaraan sekolah damai. Mereka bekerjasama dengan sejumlah sekolah dan dinas pendidikan untuk mencegah berkecambahnya virus intoleransi di lembaga pendidikan. Praksis sekolah damai di dalam kelas pembelajaran, diterapkan dengan mengatur tempat duduk agar siswa berbaur tanpa membedakan latar belakang agama. Siswa yang bergama minoritas di dalam kelas, juga diberi kesempatan untuk memimpin doa.

Menurut Mujtaba makna toleransi juga harus diperluas. Toleransi bukan sekadar saling menghargai karena siswa berbeda. Tapi siswa yang berbeda itu juga bersedia bekerja sama dan berkolaborasi dalam satu aktivitas. Jelang perayaan hari besar keagamaan di sekolah, siswa dapat bersama-sama membantu dalam mempersiapkan kegiatan perayaan tanpa perlu mengikuti kegiatan ibadahnya. “Siswa juga bisa diajak membantu bersih-bersih rumah ibadah yang bukan rumah ibadah siswa itu,” jelasnya. Praktik-praktik seperti itu menurutnya menjadikan toleransi lebih bermakna.

Umpan Balik bagi Sekolah

Sementara itu, Kepala Balitbang dan Perbukuan Kemendikbudristek, Anindito Aditomo, menjelaskan saat ini Kemendikbudristek memang tengah melaksanakan Survei Lingkungan Belajar di seluruh sekolah di tanah air. Survei itu adalah bagian salah satu dari tiga komponen Asesmen Nasional Program Merdeka Belajar Episode Pertama, yakni Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Literasi dan Numerasi, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

“Survei lingkungan belajar, bukan sekadar pemetaan atau pengambilan data dari setiap lembaga pendidikan untuk mengukur kualitas pendidikan sekolah, tapi lebih dari itu memberi umpan balik tentang kondisi kualitas pendidikan di setiap sekolah, termasuk bagi dinas pendidikan di daerah untuk mengetahui kondisi layanan kualitas pendidikan di setiap sekolah wilayah mereka,” ujarnya. Hasil survei nantinya akan dikembalikan ke sekolah dan dinas pendidikan di daerah. Bagi sekolah, tujuannya agar sekolah bisa merancang program ke depan untuk memperbaiki komponen yang masih perlu diperbaiki. Sedang bagi dinas pendidikan, hasil survei juga bisa digunakan sebagai dasar untuk merancang program mereka dalam rangka meningkatkan kualitas layanan pendidikan di setiap sekolah yang berada di wilayah kerja mereka.

Untuk mendapatkan potret iklim kebinekaan di sekolah, Anindito Aditomo menyebut ada beberapa indikator yang disurvei. Di antaranya rasa nyaman siswa bergaul, berinteraksi, bekerjasama dengan siswa yang berbeda latar belakang agama. Indikator lain adalah dukungan terhadap kesetaraan gender, konsepsi guru terhadap siswa disabilitas, cara guru mengajar terhadap siswa disabilitas hingga fasilitas terhadap disabilitas. “Kita juga memotret kualitas iklim keterbukaan di kelas, apakah siswa bebas menyampaikan pendapat atau tidak,” katanya. Namun iklim kebinekaan hanya salah satu aspek dari survei lingkungan belajar. Menurutnya, mereka juga memotret berbagai aspek proses pembelajaran, praktik guru, kepemimpinan kepala sekolah dan iklim keamanan di sekolah.

Tentang yang terakhir ia menyebut apakah di sekolah siswa bebas dari perundungan, pelecehan seksual dan penyalahgunaan narkoba. Tentang proses pembelajaran akan dipotret juga aspek kognitif siswa seperti kemampuan membaca dan menalar teks, termasuk kemampuan bernalar menggunakan konsep-konsep dasar matematika. Kompetensi literasi dan numerasi ini menurutnya diperlukan semua siswa, entah mereka yang bercita jadi dokter, insinyur, ekonom, maupun anggota DPR.

Selain kemampuan mencerna bacaan atau teks, siswa juga harus memiliki kemampuan memecahkan masalah. Indikator survei lingkungan belajar jika dikelompokkan sebenarnya ada tiga. Pertama, aspek kualitas pembelajaran di kelas. Dalam aspek ini guru juga akan ditelisik, apakah mereka terampil mengelola manajemen kelas sehingga siswa merasa kondusif dan bisa fokus ke pembebelajaran. Kedua, adakah dukungan sosial dan emosional dari guru selama proses pembelajaran. Maksudnya apakah guru mampu menciptakan suasana siswa punya ruang, otonomi atau kebebasan memilih dalam pembelajarannya.

Apakah siswa juga punya keyakinan diri untuk belajar lebih lanjut. Ketiga, guru menerapkan kegiatan yang memicu pemrosesan materi pembelajaran secara mendalam. Artinya sejauh mana guru mampu memancing siswa duntuk bertanya, berdebat, dan berkolaborasi. “Jadi survei mengukur literasi dan numerasi ini, lebih unruk melihat apakah setelah mengikuti pembelajaran siswa jadi lebih gemar membaca, lebih cerdas, lebih bisa memecahkan masalah dibanding sebelum mengikuti pembelajaran,” ujar Anindito. Dengan kata lain, hasil survei karakter akan melengkapi capaian survei pembelajaran. “Tujuan pembelajaran harus holistik.

Tidak hanya berfokus pada pengembangan kognitif saja, tapi juga perlu mengembangkan siswa sebagai individidu yang utuh. Dikembangkan juga dimensi emosional, spiritual dan emosional,” tambahnya. Ia juga menegaskan bahwa sekolah negeri atau swasta, homogen atau heterogen latar belakang agama siswa, harus mendukung tumbuhnya lingkungan pendidikan nilai-nilai kebinekaan. Ia juga percaya, pada dasarnya orang Indonesia adalah toleran. Jika pun di sekolah ada yang intoleran, ia percaya hal itu bisa diterapi.

Memantik Dukungan

Sofyan Tan mendukung sepenuhnya pelaksanaan asesmen nasional, terutama survei lingkungan belajar. Membenahi kualitas pendidikan menurutnya harus berbasis riset. Harus didukung data objektif. Itu bisa diperoleh lewat riset. Setiap sekolah di tanah air punya tantangan berbeda terkait aspek lingkungan belajar, iklim kebinekaan dan fasilitas pendidikan. Karena itu dari hasil survei lingkungan belajar, terapi yang diberikan untuk setiap sekolah jugavh pasti akan berbeda. Inilah yang membuat dirinya mendukung survei lingkungan belajar yang merupakan bagian dari asesmen itu. “Komisi X DPR RI sepenuhnya mendukung survei lingkungam belajar ini.

Tapi sesuai tugas dewan, kami juga akan mengawasi secara ketat penggunaan anggaran survei agar sesuai peruntukkannya,” tegasnya. Mujtaba Hamdi juga menyambut positif survei lingkungan belajar yang dilakukan Kemendikbudristek. “Tujuannya bukan untuk menghukum sekolah, tapi lebih sebagai dukungan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekolah. Itu positif.” Dalam bahasa Anindito Aditomo, survei lingkungan belajar memang bertujuan untuk memicu terjadinya perubahan paradigma dalam praktik pembelajaran di setiap sekolah di tanah air. Praktik pembelajaran yang membuat siswa tak hanya cerdas secara kognitif, tapi juga memiliki sikap inklusif. Mau menghargai dan bekerjasama dengan setiap orang yang berbeda secara suku, agama atau kepercayaan, gender maupun perbedaan lainnya.



Posting Komentar

Bagaimana tanggapanmu ?.. yuk tulis disini...

Copyright © Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM).
Designed by ODDTHEMES Shared By Way Templates