Rubik Inspirasi - Ia yang Mendapat Nyala Api


Sekitar 2 tahun setelah mendirikan Taman Siswa pada 2 Juli 1922, Raden Mas Soerjadi Soerjaningrat menanggalkan gelar kebangsawanannya. Nukilan film dokumenter yang memerlihatkan Soewardi tengah berpidato dalam Program Melawan Lupa, Metro TV edisi 6 Mei 2017, menjelaskan alasannya:

"Kita menghilangken titelatur. Semua orang yang masuk ke dalem Taman Siswa, hilang titelnya.  Raden Mas,  Raden Ayu, Raden Ajeng yang masuk dalem Taman Siswa dengen titel Ki, kalau laki-laki, Nyi kalau perempuan yang sudah bersuami, dan Ni kalau perempuan yang belum bersuami. Dengan begitu semua lalu kita sama. Dalam Taman Siswa tidak ada perbedaan dengan yang lain di dalem tingkatan titelatur."

Dengan menanggalkan gelar kebangsawanan itu, relasi sosial yang semula tak setara, yang sejak muda sudah disadari Soewardi dan diperjuangkannya lewat Indische Partij bersama Tjipto Mangunkusumo dan E.E.E, Douwes Dekker yang lalu berganti nama menjadi Danudirja Setiabudi, lalu jadi egaliter.

Lalu saat berumur 40 tahun, Soewardi mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Menurut Savitri Scherer, seperti dikutip Prof. Dr. Nina Herlina, M.S. dalam tulisannya Tiga Serangkai Dalam Pergerakan Nasional, dalam buku Ki Hajar Dewantara, Pemikiran dan Perjuangannya, pergantian nama itu merupakan penegasan sebuah status sosialnya. Soewardi merupakan priyayi aristokrat karena statusnya sebagai cucu Paku Alam III. Namun status sosialnya yang begitu tinggi, ia tinggalkan akibat intrik di dalam kraton. Melalui pendidikan, status sosialnya itu "dikembalikan" sebagaimana implisit dari nama barunya Ki Hajar Dewantara yang memiliki makna "seorang terhormat (Ki) yang mengajar (Hajar) sebagai wakil/perantara dewa (Dewantara)."

 

Menyulut Nyala Api

Dalam perspektif kepemimpinan,  Ahmad Yuniarto,  menyebut apa yang terjadi pada Soewardi muncul akibat pencerahan yang ia terima dari berbagai pendidikan di sekolah yang diikutinya.

"Pendidikan yang ia, terima meski pendidikan model Eropa, telah membangun kesadaran kritis terhadap lingkungannya," katanya. Saaat di sekolah ia mendapat pelajaran tentang nilai-nilai kesetaraan, ia melihat ternyata hanya kaumnya saja yang bisa bersekolah. Ia juga melihat ada perlakuan berbeda terhada dirinya sebagai bangsa terjajah.

Semua itu membangun sebuah kesadaran baru. Nyala api pencerahan itu memuncak saat pemerintah Hindia Belanda hendak membuat perayaan 100 tahun kemerdekan Nederland di seluruh tanah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda. Perayaan hendak dibuat secara besar-besaran. Biayanya sebagian dibebankan  dari hasil kutipan penduduk.

 Merasa ada ketidakadilan, ia lalu menulis pamflet Als ik een Nederlander was atau Seandainya Aku Seorang Belanda, yang ditulis dalam bahasa Belanda dan Melayu. Isi tulisan tersebut dianggap menghasut kebencian terhadap pemerintah kolonial Belanda. Akibatnya, bersama Tjipto Mangunkusomo dan Douwes Dekker, trio pendiri Indische Partij ini dihukum sebagai orang buangan di Negeri Belanda.

Menurut Yuniarto, di negeri Belanda,  Soewardi justru makin banyak mendapat pengetahuaan baru tentang pendidikan. Soewardi sangat terpengaruh metode pendidikan Montessori berdasar pada teori perkembangan anak, dan sekolah alam Rabrindanath Tagore dengan gagasan mengembalikan anak-anak pada akar budaya  dan jati diri kemanusiaannya.

Bagi Yuniarto, Soewardi bukan sekadar seorang survivor, tapi juga seorang resilien. Sebagai orang buangan,  ia tak hanya mampu menanggung beban berat hidup bersama isteri dan anaknya yang masih kecil. Tapi juga sekaligus mendapat pengetahuan-pengetahuan baru untuk memajukan bangsanya lewat pendidikan yang kelak menjadi media perjuangannya sepulang kembali ke tanah air.

Belajar dari Ki Hajar Dewantara, Yuniarto berharap sebagai pemimpin di lingkungan sekolah, guru dapat menggeser cara pandang dalam mengelola pandemi sebagai krisis sementara, menjadi mengelola transisi agar siswa  mendapat pegangan sementara agar orang tidak bingung, atau hilang arah.

 

Membangun Kemampuan Resiliensi

Dalam masa pandemi, guru menurutnya harus berperan untuk membentuk masa depan anak. Tujuannya bukan agar anak survive dari krisis atau tidak jadi korban pandemi. Soalnya survive saja  belum tentu  menjamin anak punya kemampuan baru untuk bangkit kelak  pasca krisis.

"Yang perlu dibangun adalah kemampuan resiliensi," katanya. Resiliensi adalah kemampuan anak menangapi disrupsi yang tak direncanakan, mampu menghadapi gangguan atau stress besar. Seorang resilien merupakan orang yang mampu menanggung kesulitan, mencari hal-hal baru  dan  jalan keluar  baru. Menjadi resilien butuh pola pikir  positi yang melihat gangguan dan kesulitan sebagai sarana memperbaiki diri.

"Namun setelah belajar dari hal-hal baru, seorang resilien juga harus berani membuang hal-hal lama yang tidak lagi sesuai dengan situasi baru," katanya.

Proses menjadi resilien menurut Yuniarto dimulai dari kemampuan menanggapi krisis,  berani bereksperimen karena belum  ada solusi pasti. Eksperimen harus terus-menerus dilakukan sampai berhasil.

"Kita juga harus mampu memanfaatkan kecerdasan kelompok atau mendapatkan ide dari luar kelompok," katanya. Kolaborasi dengan orang lain menjadi kunci enting. Hal itu berangkat dari realita, masalah yang dihadapi memang sangat besar. Dan tak seorang pun mampu menyelesaikan sendiri. (J Anto)


Posting Komentar

Bagaimana tanggapanmu ?.. yuk tulis disini...

Copyright © Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM).
Designed by ODDTHEMES Shared By Way Templates