Kurangi Kenakalan Remaja Dengan Kearifan Lokal


Plato adalah murid Socrates yang paling terkemuka yang mengembangkan sistem filsafatnya sendiri secara lengkap. Ia adalah orang pertama yang mendirikan sebuah akademi (suatu pusat studi). Menurut Plato, negara local harus berlandaskan pada prinsip keutamaan yaitu adalah pengetahuan. Plato melihat pentingnya lembaga pendidikan bagi kehidupan kenegaraan. Menurutnya, tidak ada cara lain yang paling efektif untuk mendidik warga negara agar menguasai  pengetahuan kecuali dengan membangun lembaga-lembaga pendidikan itu. Motivasi inilah yang mendorong Plato membangun sekolah akademi pengetahuan.

Pendidikan itu sebenarnya merupakan suatu tindakan pembebasan dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Dengan demikian, jelaslah pula bahwa peranan pendidikan paling utama bagi manusia adalah membebaskan diri memperbaharui moralitas jiwa mengantarnya ke ideal yang tinggi yaitu kebajikan, kebaikan, dan keadilan. Plato yang menekankan perlunya pendidikan direncanakan dari diprogramkan sebaik-baiknya agar mampu mencapai sasaran yang diidamkan.

Menurut KBBI, pendidikan berasal dari kata didik dan mendapat imbuhan ”pe” dan akhiran “an” maka kata pe mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik secara bahasa. Defenisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran atau pelatihan. Semua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk masyarakat dalam proses pembangunan nyata untuk menjadi negara yang lebih maju.

Di Indonesia sendiri, pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan telah menjadi citra tersendiri bagi sejarah pendidikan di Indonesia. Ia adalah embrio model pendidikan klasik Indonesia yang dulu dipandang cocok dan cikal untuk mengembangkan dan mengaktualkan potensi generasi muda Indonesia dan aspek personal lainnya seperti dimensi sosialitas dan spiritualitasnya.

Refleksi dan evaluasi atas perkembangan pendidikan Indonesia dengan segudang persoalannya dewasa ini mestinya berangkat dari sana. Upaya demikian memang tidak mudah, sebab munculnya persoalan pendidikan dewasa ini tidak terlepas dari kerangka upaya menanggapi tantangan zaman sekarang yang dilakukan oleh Ki Hajar Dewantara tempo dulu. Tuntutan dunia pendidikan di Indonesia zaman sekarang yang lebih bervariasi di Indonesia dimana Ki Hajar Dewantara menggagas konsep pendidikan yang boleh jadi memang sangat dibutuhkan kala itu.

Tidak sedikit permasalahan muncul pada pendidikan. Hal utama pada pendidikan masa kini yang semakin banyak menuai permasalahan dan kurang antisipasi objek permasalahan dan untuk mengatasi masalah tersebut dengan baik. Permasalahan tersebut yaitu globalisasi, perubahan sosial budaya, profesionalisme guru, strategi pembelajaran, dan yang langsung bersangkutan dengan siswa zaman sekarang adalah kenakalan remaja.

Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada saat kanak-kanaknya. Masa kanak-kanan dan masa remaja berlangsung sangat singkat dan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat secara psikologis. Kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya seringkali didapati bahwa ada trauma pada masa lalunya.

Dilihat dari factor eksternalnya ada beberapa hal yang mempengaruhi kenakalan remaja. Yang pertama adalah factor keluarga. Perceraian orang tua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negative pada remajanya. Pendidikan yang salah di keluarga pun seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama atau pendidikan terhadap eksistensi anak bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja. Yang kedua adalah komunitas atau lingkungan atau sekolah atau tempat tinggal yang kurang baik.

Dilihat dari faktor internalnya ada dua hal yang menyebabkan kenakalan remaja yang pertama adalah krisis identitas perubahan sosiologis dan biologis pada remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbetuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya dan tercapainya identitas peran kenakalan remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi.

Yang kedua adalah kontrol diri yang lemah. Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan hasrat pada perilaku nakal. Begitu pun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut. Namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

Adapun akibat yang ditimbulkan yang dilakukan kenakalan remaja seperti pada dirinya sendiri. Akibat dari kenakalan yang dilakukan oleh remaja akan berdampak bagi dirinya sendiri sangat merugikan baik fisik maupun mental. Walaupun perbuatan itu dapat memberikan suatu kenikmatan tetapi itu semua hanya kenikmatan sesaat saja. Dampak bagi mental yaitu kenakalan remaja tersebut akan mengantarnya kepada mental yang lemah, berfikir tidak stabil dan kepribadiannya akan terus menyimpang di segi moral yang pada akhirnya dapat menyalahi aturan etika dan estetika.

Dampak bagi keluarganya adalah berakibat ketidakharmonisan didalam keluarga dan putusnya komunikasi antara orangtua dan anak sehingga akhirnya kenakalan anak akan semakin meningkat dan pada akhirnya keluarga akan merasa malu. Dampak bagi lingkungan masyarakat adalah masyarakat akan menganggap bahwa remaja itu adalah tipe orang yang tidak bermoral.

Dewasa ini, kenakalan remaja telah menjadi penyakit ganas ditengah masyarakat, mengingat remaja merupakan bibit pemegang tampuk pemerintahan negara ini masa depan. Masalah ini merupakan masalah yang perlu disikapi oleh pendidikan zaman sekarang.

Kini tuntutan pendidikan semakin meningkat. Untuk itu ada pendidikan dan pembinaan moral terhadap remaja sebagai penerus bangsa agar memiliki akhlak yang baik dan bertanggung jawab. Namun pada kenyataannya, semakin berkembang ilmu pengetahuan dan teknologi membuat remaja telah sensitive dalam menanggapi hal itu.

Pada akhirnya tak sedikit remaja yang terjerumus kedalam hal-hal yang bertentangan dengan nilai moral, nilai agama, norma sosial serta norma hidup di masyarakat. Oleh karena itu remaja akan cenderung mempunyai tingkah laku yang tidak pantas. Kenakalan remaja inilah yang menjadikan diri kita semakin terbelakang dan tertinggal jauh untuh dapat membangun negara Indonesia ini menjadi negara yang baik dan maju.

Guru sebagai pelaku langsung pendidikan memiliki peran dalam menanggulangi kenakalan remaja yang terjadi di dunia pendidikan. Yang pada dasarnya peran guru adalah sebagai pendidik, pengajar, dan pembimbing, komunikator, motivator, mediator, informatory, evaluator, dan sebagai pelaku langsung untuk menanggulangi kenakalan remaja guna meningkatkan pendidikan anak bangsa.

Selain pendidikan karakter yang sekarang ini menjadi satu tranding pendidikan nasional dan pendidikan keluarga. Hal lain yang perlu dicoba untuk mengurangi kenakalan remaja adalah dengan cara pendidikan adat istiadat. Selain mengubah pola pikir, namun juga mempertahankan pengetahuan remaja tentang adat istiadatnya tersebut kearifan lokal yang berada di Indonesia salah satu yang menarik adalah kearifan local Batak Toba yaitu Dalihan Natolu. Kearifan local tampaknya  seperti obat masyarakat dalam upaya melihat kompleksitas permasalahan yang tidak rasional dalam menaklukkan alam. Salah satu nilai budaya yang menjadi kebanggaan orang Batak Toba yaitu sistem hubungan sosial dalihan Natolu yang terwujud dalam hubungan kekerabatan yang sangat kental berdasarkan keturunan darah dan perkawinan yang berlaku secara turun temurun hingga sekarang ini sebagai sistem budaya.

Dalihan Natolu atau sering juga diterjemahkan dengan istilah tungku nan tiga. Pengertiannya dalam budaya Batak tentu akan berbeda pengertian dan maknanya nilai budaya lain yang ada di Sumatera seperti tungku tiga sejarangan benang tiga sepilin, paying tiga sekaki, dan lain sebagainya. Berfungsi sebagai pedoman yang mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tata laku dan perbuatan (sikap atau pola tindak) orang Batak Toba.

Oleh karena itu Dalihan Natolu merupakan satusistem budaya yang bagi orang Batak Toba nilai yang dikandungnya dijadikan teladan hidup dan sekaligus menjadi sumbermotivasi berperilaku. Orang Batak Toba menghayati Dalihan Natolu sebagai satu sistem nilai budaya yang memberi pedoman bagi orientasi, persepsi, dan defenisi terhadap kenyataan atau realitas (Harahap Siahaan, 1987).

Bagi orang Batak Toba salah satu ciri khas dalihan natolu yang dinilai tinggi adalah sistem kekerabatan dalam konteks keluarga luas. Dalam konteks ini dalihan natolu berperan mengatur hubungan sosial diantara tiga kerabat secara fungsional, yaitu kerabat semarga (dongan tubu), kerabat penerimaan istri atau yang disebut boru, dan kerabat pemberi istri yang dikenal dengan istilah hula-hula. Perlu kita ketahui bahwa marga dalam sistem kekerabatan orang Batak Toba, demikian juga orang Minang, berdasarkan keturunan sedarah berbeda dengan pengertian fam yang ada di daerah lain.

Oleh karena itu, perkawinan semarga bagi orang Batak sangat dilarang meskipun daerah asal mereka berbeda. Secara operasional hubungan sosial yang dibangun dalam sistem budaya dalihan na tolu dilakukan dalam bentuk perilaku hati-hati kepada kerabat semarga atau disebut dengan manat mardongan tubu, perilaku membujuk kepada pihak penerima istri atau yang dikenal dengan elek marboru dan perilaku bersembah sujud kepada pemberi istri atau dikatakan juga somba marhula-hula.

Oleh karena itu, bagi orang Batak Toba penerapan hubungan sosial yang ada di dalam budaya dalihan na tolu menuntut adanya kewajiban individu untuk bersifat dan berperilaku pemurah kepada orang-orang yang memiliki hubungan kerabat, yaitu dengan tubu boru dan hula-hula. Yang menarik dari kearifan lokal tersebut adalah dimana setiap orang diatur dalam setiap tingkah lakunya dan mengklasifikasikan bagaiman cara kita bersikap kepada setiap orang.

Masalah kenapa kenakalan remaja marak adalah kurangnya pendidikan karakter pada remaja zaman sekarang. Kenakalan remaja dominan terjadi di daerah perkotaan. Hal ini terjadi karena memang kehidupan di daerah perkotaan lebih keras dan lingkungan yang lebih berfariasi. Sehingga mengubah pola pikir remaja. Yang menjadi perbedaan dengan remaja yang tinggal di daerah yang adat istiadat nya masih kental adalah mereka cenderung lebih menghormati sesamn nya. Karena pendidikan karakter dari adat istiadat tersebut sudah diajarkan sejak dini.

Oleh karena itu pendidikan adat istiadat sangat penting bagi remaja untuk mengurangi kenakalan remaja dimana pendidikan adat istiadat tersebut salah satunya adalah dalihan natolu. Dimana peran dalihan natolu adalah mengubah karakter remaja menjadi sosok yang menghormati siapa saja, sehingga kenakalan remaja dapat teratasi.

Dalam mengatasi kenakalan remaja guna meningkatkan pendidikan dan memperdalam nilai2 budaya dakam diri seorang remaja maka ada beberapa peran yang secara aktif dan bertahap dalam memberikan pendidikan karakter tersebut. Yang pertama adalah peran serta keluarga. Sangat diperlukan adanya pengawasan dari orang tua namun tidak mengekang serta pengawasan yang intensif terhadap media komunikasi dan juga mendukung hobi yang anak inginkan selama hal tersebut masih bersifat positif.  Dan juga keluarga sangat perlu mengajarkan anak sejak dini tentang pendidikan adat istiadat agar kearifan lokal tersebut tetap melekat pada diri anak dan dijadikan sebagai pedoman dalam bertingkah laku.

Yang ke dua adalah peran sekolah.  Sekolah merupakan pembinaan yang telah diletakkan dengan dasar-dasar dalam keluarga. Sekolah harus memberikan pengajaran nilai dan norma kepada anak didiknya. Partisipasi masyarakat diperlukan untuk berperan aktif menciptakan kondisi yang aman, nyaman tenteram dan damai. Sehingga ini yang akan membentuk karakter remja menjadi pribadi yang lebih positif.

Budaya dalihan na tolu mengatur dan mengendalikan kehidupan orang Batak Toba tidak hanya dalam konteks ikatan adat saja tetapi juga dakam bidang pendidikan karakter remaja. Pengaruh yang begitu kuat dari budaya dalihan natolu terhadap orang

Batak Toba dan kemungkinan akan memenangkan masalah remaja zaman sekarang guna menciptakan remja yang pendidikan nya tinggi dan juga dibarengi dengan sikap dan pengetahuan akan kearifan lokalnya sendiri.(Oleh Ayu Neng Sari Situmorang, Siswi SMA Sultan Iskandar Muda Medan)

Sumber : http://www.kampusmedan.com/2018/04/19/mengurangi-kenakalan-remaja-dengan-meningkatkan-kearifan-lokal/

Posting Komentar

Bagaimana tanggapanmu ?.. yuk tulis disini...

Copyright © Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM).
Designed by ODDTHEMES Shared By Way Templates