Sebanyak 33 Siswa SIM Lolos SNMPTN

 
Lulus SNMPTN. Sebanyak 33 Siswa SMA (32) dan SMK COE (1) Sultan Iskandar Muda, Medan Sunggal diterima di berbagai PTN terkemuka di tanah air. Mereka diabadikan bersama Pimpinan Sekolah Edy Jitro Sihombing, M.Pd dan Kepala COE SMK Sultan Iskandar  Muda, Medan Sunggal, di depan Aula Bung Karno, Senin (29/3). Foto - J Anto

Perjuangan Raju Menggunting Kemiskinan

Medan, Analisa. Meski mengenakan masker, canda dan tawa terus bertabur dari sebanyak 33 siswa SMA (32) dan SMK (1) Sultan Iskandar Muda (SIM), Medan Sunggal. Ditemui di depan Aula Bung Karno, Kompleks Perguruan Sultan Iskandar Muda, Senin (29/3) ke 33 siswa itu baru saja melakukan foto bersama Koordinator Sekolah Perguruan Sultan Iskandar Muda, Edy Jitro Sihombing, M.Pd., dan Kepala SMK Centre Of Exeleence (COE), Elly Sorta Silitonga, S.Pd.

Kegembiraan memang layak dirayakan mereka, soalnya ke 33 siswa itu baru saja menerima pemberitahuan bahwa mereka termasuk siswa yang lolos masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2021. 

"Yang istimewa, 6 dari 33 siswa itu berstatus sebagai anak asuh seperti Raju, yang memang siswa yang tergolong pintar," ujar Edy Jitro Sihombing. Ia juga optimis jumlah siswa SMA Sultan Iskandar Muda yang diterima di PTN masih akan bertambah lagi lewat jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang akan diumumkan pertengahan Juni 2021.

Ingin Jadi Dosen Matematika

Bisa diterima di PTN tentu jadi impian setiap siswa di tanah air. Terlebih bagi siswa Program Anak Sultan Iskandar Muda seperti Raju Hasudungan Simalango. Ia diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam jurusan Matematika Universitas  Sumatera Utara (USU Medan).

"Saya memang  bercita-cita ingin jadi dosen Matematika," ujar Raju. Matematika adalah mata pelajaran favoritnya. Siswa yang selalu meraih juara 1 di kelasnya ini juga aktif mengikuti klub Matematika di sekolahnya. Bersama timnya juga pernah menyabet gelar dalam sebuah kejuaraan. 

Raju berasal dari keluarga sederhana. Bersama orangtua dan 2 adiknya, mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan berukuran 5 x 6 meter di daerah Sri Gunting. Ayahnya sudah lama tak bisa bekerja karena ki penyakit gula cukup kronis. Ekonomi rumah tangga keluarganya mengantungkan penghasilan ibunya yang sehari-hari bekerja menjahit karung goni.

"Ibu saya mulai bekerja pukul 07.00 selesai pukul 17.00," tuturnya. Honor yang diterima Rp 40.000. Tak mau enak-enak berpangku tangan, sejak kelas 1 SMA, Raju menjual roti paham ayam di sekolah. Dalam sehari ia bisa menjual 30 potong roti. Roti itu diambil dari pedagang roti tak jauh dari rumahnya.  Setelah habis, baru ia setorkan ke pemiliknya. Dari sana Ia memeroleh untung Rp 30.000. Tapi sejak pandemi Covid-19, praktis ia tak bisa berjualan lagi di sekolah. Ia memang masih bisa menjual roti paha ayam ke teman-temannya, via WhatsApp. Tapi tak banyak, paling cuma laku 10 potong. 

Memberi Les Privat

Tapi Tuhan punya cara lain memberinya rezeki. Karena pintar Matematika, ia juga punya 4 siswa yang ikut les privat. Meski jadwalnya cukup padat, Raju tak mengeluh. Dari les privat  ia bisa membantu ibunya Rp 800.000 per bulan. 

"Makan siang dan malam pun gratis, dan lauknya pun enak-enak karena orangtua yang anaknya ikut  les privat berasal dari keluarga mampu," ujar Raju dengan wajah semringah.

Perkisahan sejenis dialami Ferdy Fraddly Nainggolan yang diterima di Fakultas Teknik Informatika USU Medan. Ferdy anak sulung dari lima bersaudara dan tinggal dengan orangtua tunggal. Selain memberi les privat Freddy juga harus membantu ibunya berjualan ikan basah keliling di perumahan di Namo Gajah, Medan Tuntungan. Setiap sore, usai pulang sekolah ia juga bertugas mengantar galon air isi ulang ke rumah-rumah pelanggan. 

Perjuangan membantu ekonomi orangtua juga dilakukan siswa anak asuh lain seperti dilakukan Jennifer Tio yang diterima di Fakultas Ekonomi Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis USU Medan, Novri Ramdani Nasution (Ilmu Keperawatan USU Medan) dan  Yulia Wardani (Ilmu Kesehatan Masyarakat USU Medan).

Memetik Tauge

Jika Jennifer Tio membantu menjual sarapan pagi ke teman-temannya di sekolah, Yulia  Wardani membantu memetik tauge yang dikerjakan bersama saudara dan ibunya.

"Upahnya Rp 2.000 per kg, setengah hari bisa sekarung kita petik," tuturnya. Satu karung tauge beratnya berkisar 20 kg. Pekerjaan memetik tauge biasanya dikerjakan setengah hari. Pandemi Covid-19 bagi anak-anak dari keluarga margina sepertinya memang tak membuat mereka kehilangan semangat membantu meringankan beban ekonomi orangtua.

Kini Raju, Ferdy, Jennifer, Yulia dan Novri tengah harap-harap cemas tentang status kuliah mereka di Universitas Sumatera Utara. Keenam siswa itu berharap pihak USU Medan dapat memberi mereka beasiswa. Harapan mereka agar bisa membantu mewujudkan mimpi mereka menggunting kemiskin lewat pendidikan, "Seperti berkali ditegaskan Pak Sofyan Tan," kata Raju. (Ja).


Post a Comment

Bagaimana tanggapanmu ?.. yuk tulis disini...

Copyright © :: YPSIM ::.
Designed by ODDTHEMES Shared By Way Templates